Minggu, 31 Mei 2026

bandung

Menurut Dandim Kasus Pembunuhan Anak Perwira TNI Banyak Kejanggalan

Banyak kejanggalan," ucap Dandim 0618/BS Bandung Letkol Rudi M Ramdhan saat ditemui di rumah korban

Tayang:
Editor: Budi Prasetyo
Kompas.com/Rio Kuswandi
Proses pengangkutan jenazah para korban pembunuhan di Komplek TNI - AD dari TKP pembunuhan di Jalan Gudang Utara No. 18, Kelurahan Merdeka, Kecamatan Sumur Bandung, Bandung, Jawa Barat, ke dalam mobil ambulan untuk kemudian jenazah dibawa ke RS Sartika Asih Polri, Minggu, (22/6/2014). 

TRIBUNNEWS.COM.BANDUNG-  "Banyak kejanggalan," ucap Dandim 0618/BS Bandung Letkol Rudi M Ramdhan saat ditemui di rumah korban, Jalan Gudang Utara, Kota Bandung, kemarin.

Pihak TNI kata Rudi turut serta membantu mengungkapkan kasus yang terjadi di kawasan perumahan TNI tersebut. Bahkan, tim gabungan TNI telah diterjunkan guna memberikan informasi tambahan kepada Polrestabes Bandung.

Tim, kata Rudi, terdiri atas masing-masing tiga orang dari setiap unsur. "Pelakunya bisa internal atau eksternal. Ini kan korban keluarga besar TNI, secara moril kami berusaha ikut membantu menyelidiki," ujar Rudi.

"Kemarin pagi, Ibu Rudi telepon saya. Minta tolong untuk ketokin rumahnya, karena ditelepon ke anak-anaknya pada mati. Om Acim juga tidak ngangkat," ujar Fitri Yuliani (34).

Suara Aura itu menurutnya terdengar hingga 3 kali. Tak hanya dirinya yang mendengar, namun seorang anggota TNI lainnya yang diminta oleh Letkol Rudi, bernama Bang Slamet pun mendengarnya.

Setelah mendengar suara Aura tersebut Fitri pun meninggalkan rumah itu karena akan ziarah.

Kirim Sampel Darah

Ia menambahkan, penyelidikan dilakukan secara konvensional dan ilmiah. Penyelidikan secara konvensional di antaranya memeriksa saksi, tetangga, termasuk saksi yang pertama kali melihat korban.

Menurut dia, untuk melakukan penyelidikan ini perlu waktu. Nantinya, hasil dua penyelidikan ini akan digabungkan. "Nantinya akan menjadi satu kesimpulan. Siapa yang bertanggung jawab secara pidana mengenai kejadian ini," kata Wakapolda.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Mashudi, didampingi Kasat Reskrim AKBP Nugroho Arianto, menuturkan, hasil laboratorium forensik masih dalam proses. "Inafis berangkat ke Jakarta untuk cek darah. Dalam dua atau tiga hari keluar hasilnya," ujarnya di Mapolrestabes Bandung, Senin sore.

Mashudi tak mau menduga-duga siapa pelaku pembunuhan terhadap korban. Termasuk apakah Acim bunuh diri atau dibunuh pelaku lain."Kami bertindak berdasarkan asas praduga tak bersalah meski gambarannya seperti itu. Itu nanti dokter yang menentukan apa dia bunuh diri atau mati digantung," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Minggu (22/6/2014) pagi tiga orang ditemukan tewas di Jalan Gudang Utara No 18. Dua korban di antaranya kakak dan adik, yakni Raden Mahesa Praja P dan Raden Aura Rivi Ilaiyah. Mereka adalah putra-putri Letkol TNI Rudi Martiandi, yang tengah bertugas di Solo. Satu korban lain adalah

Acim, pembantu di rumah tersebut. Praja tewas dengan sejumlah luka, Aura dengan bekas cekikan, dan Acim ditemukan menggantung.
Anak Disiplin

"Kebetulan saya kemarin (Minggu) sedang ada di luar kota. Saya mendapat kabar jam 10 dari wali kelasnya, Bu Kiki. Saya kaget kenapa bisa meninggal seperti itu," ujar Kepala SMA BPI 1 Deti Sudiarti saat ditemui di sekolahnya di Jalan Burangrang, Bandung, kemarin.

Pihak SMPN 44 Bandung, yang merupakan tempat menuntut ilmu adik Praja, Aura, pun tak menyangka Aura bisa meninggal dengan cara seperti itu. Wali kelas Aura, Aviani Santi, merasa kehilangan sosok siswi yang dikenalnya saleha itu.


Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved