Rabu, 8 April 2026

Kurang Air, Petani Terpaksa Panen Dini Tanaman Kangkung Taiwan

“Selain panen dini, kita juga membiarkan pipa plastik yang semula dipakai untuk mengalirkan air dari waduk,”ungkap Buchori Muslim, petani Tikung, Sela

(Warta Kota/Ichwan Chasani)
Warga memindahkan ratusan ikat sayur kangkung alami dari gerobak ke mobil pick up milik pengepul. Kangkung alami itu mereka petik dari sawah dan rawa-rawa yang terendam banjir. Banjir menjadi berkah bagi sebagian warga Kampung Pendayakan RT9/4, Desa Muara Bakti itu. 

TRIBUNNEWS.COM, LAMONGAN – Para petani kangkung Taiwan di Lamongan merugi besar akibat kualitas biji kangkung menurun, sebagai dampak kekurangan air. Bahkan petani terpaksa  melakukan panen dini untuk menghindari kerugian yang cukup signifikan.

Seperti yang dilakukan petani di Dusun Topeng Desa Jatirejo Kecamatan Tikung. Awalnya menanam padi. Namun di musim  ini petani mengalih fungsikan lahan menjadi lahan pertanian kangkung.

Tanaman kangkung Taiwan ini, pada umumnya disebut kangkung kosmetik, karena biji kangkung ini digunakan sebagai bahan dasar kosmetik, dan bahan pembuatan oil.

Pada musim panen raya kangkung Taiwan ini, sangat mengecewakan, bahkan tidak memuaskan petani.

Masalahnya  kualitas biji kangkung kosmetik menurun drastis, akibat kekurangan air.
Dampak kemarau sangat dirasakan mereka disaat tanaman kangkungnya seharusnya membutuhkan siraman air yang cukup.

Upaya mencari sumber air dengan membuat sumur bor juga tidak membuahkan hasil.
Sedangkan waduk di desa setempat yang menjadi tumpuan warga untuk kebutuhan irigasi sawah, kini telah mengering.

Sebelumnya, warga menggunakan saluran air dari plastik yang dihubungkan langsung dari irigasi ke lahan pertanian.

kini saluran air yang terbuat dari plastik ini, dibiarkan terbengkalai.

“Selain panen dini, kita juga membiarkan pipa plastik yang semula dipakai untuk mengalirkan air dari waduk,”ungkap Buchori Muslim, petani Tikung, Selasa (16/9/2014).

Menurut Buchori, tidak adanya air untuk menyiram tanaman, menjadi faktor utama menurunnya kualitas biji kangkung. petani hanya mampu melakukan penyiraman pada awal tanam saja.

Jika perawatan tanaman kangkung maksimal atau memperoleh air sesuai kebutuhan, biji kangkung dapat sebesar kelereng. namun, ukuran biji kangkung yang dipanen ini menyusut drastis jauh lebih kecil.

Menurunnya kualitas biji kangkung akibat kurangnya air, sangat berperngarug dengan harga yang berlaku.

“Harga biji kangkung anjlok,”kata Buchori.

Kini harga biji kangkung per kilogram hanya sekitar Rp 5 ribu  hingga Rp 6 ribu. Padahal jika biji kangkung tumbuh sempurna bias mencapai Rp 8 ribu per kilogramnya.

Masa panen selama empat bulan,  petani mengaku merugi karena biaya perawatan hingga biaya panen tidak sebanding dengan pendapatan bersih dari hasil penjualan biji kangkung..

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Tags
kangkung
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved