Minggu, 31 Agustus 2025

Kisah Transmigran Bali dari Mual Keracunan Umbi Gadung hingga Akulturasi

Bagaimana mereka melakukan akulturasi budaya dan menyatukannya dengan budaya warga asli? Ini kisahnya.

Editor: Robertus Rimawan
Tribun Bali/Luh De Dwi Jayanthi
Salah satu budaya di Desa Kospa Dwata Karya-Luwuk yaitu makan sesagi bersama yang disiapkan oleh tuan rumah upacara agama, Minggu (20/9/2015). 

“Seperti misalnya, saat upacara pawiwahan di sini. Pagi itu undangan untuk warga Hindu, lalu malamnya resepsi yang mengundang warga lokal di sini, lengkap dengan sambutan-sambutan, doa pengantin di atas panggung,” ungkap Ngarsa di rumahnya Banjar Bali II, Desa Kospa Dwata Karya.

Begitu juga setiap lima tahun sekali ada upacara potong kambing oleh masyarakat lokal, maka transmigran turut ikut dalam upacara itu.

Kalau untuk undangan adat Bali, pagi hari disediakan nasi metanding yang dinamakan sesagi.

Setiap nasi yang diberikan kepada undangan, dipersiapkan oleh pengoopin di rumah yang memiliki acara.

“Kalau nilai filosofisnya saya tidak begitu tahu, tapi mungkin ini cara orang tua dulu. Kalau pakai prasmanan, Yen megarang ada ane lek, ada ne juari, ane dorinan mekelidan nundudin tundun timpal (ada yang malu, ada yang tidak. Paling belakang bisa tidak dapat bagian),” terang Ngarsa.

Setelah semua dipersiapkan, semua makanan didoakan, setelah itu semua orang duduk dan makan bersama dengan tertib.

Seiring berjalannya waktu, ada juga transmigran yang menikah dengan orang lokal.

“Astungkara sudah lebih dari 40 tahun kehadiran kami di sini tidak ada sama sekali gesekan dengan masyarakat lokal. Semoga selamanya akan begitu,” harap Ngarsa. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan