"Kalau Anak Sudah Tidak Perawan, Rangkaian Bunga Itu Akan Layu'
“Kalau anak perawan itu tidak gadis lagi, rangkaian bunganya akan layu,” begitu kata Raidi Bin Papung.
Para gadis dan perjaka ini diharapkan dapat meneruskan, dan memanfaatkan tanah Kasinoman seluas sekitar 2,6 hektar peninggalan Ki Buyut Kapol, pendiri desa setempat sekitar tahun 1600-an.
“Upacara tradisional masyarakat Lelea menjelang musim tanam inilah yang dimaksudkan Ngarot. Bahkan hasil bumi dari proses pertanian di tanah Kasinoman tersebut, akan digunakan kembali untuk tradisi Ngarot dari tahun ke tahun,” katanya.
Tak jauh dari rumah kepala desa, sejak pagi hari, Sutami (45), warga Desa Lelea, sudah terlihat sibuk merias dua orang gadis, Umiyati (18) dan Salsa Nirmala (12).
Meski bukan sanak keluarga, Sutami dengan senang hati menyusun mahkota bunga di dua kepala gadis itu.
Tak hanya tahun ini, ia setia merias sejumlah gadis tetangganya, dari tahun ke tahun.
“Saya pernah jadi pengantin Ngarot, waktu usia 13 tahun. Saat itu, setelah kirab, rombongan Ngarot langsung menuju sawah peninggalan. Sebagian pengantin pria memacul tanah, dan sebagian pengantin gadis langsung menyemai bibit padi,” kenangnya.
Tak hanya itu, Sutami juga menceritakan sejumlah perbedaan upacara ngarot lainnya.
Dahulu, seluruh bunga yang digunakan untuk mahkota asli.
Tapi sejak sekitar 20 tahun lalu, sebagian bunga lainya adalah buatan dari kertas.
Meski demikian, Sutami serta warga setempat mengaku akan berupaya terus melestarikan tradisi Ngarot hingga anak cucunya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/indramayu-kalau-bunga-layu-artinya-si-gadis-sudah-tak-perawan-2-780x390_20151126_083909.jpg)