Dimas Kanjeng Ditangkap
Dimas Kanjeng Bayar Pensiunan dan Pecatan TNI Rp 320 Juta untuk Bunuh Pengikutnya
Perencana dan pelaksana pembunuhan korban Abdul Gani, ternyata melibatkan pecatan dan pensiunan TNI berpangkat perwira menengah (Pamen).
Editor:
Sugiyarto
Tersangka Wahyu bagian melakban leher sampai mulut korban.
"Ini dilakukan setelah ada informasi dari tersangka Wahyudi jika esok hari atau tanggal 13 April korban datang ke padepokan untuk pinjam uang," jelas AKBP Taufik.
Bertepatan tanggal 13 April, tim yang disiapkan sudah siaga sejak pagi.
Sekitar pukul 08.00 WIB korban Abdul Gani datang ke padepokan dan ditemui tersangka Wahyu Wijaya.
Di situ terlibat pembicaraan sekitar 5 menit di ruang tamu tim pelindung.
"Dalam pembicaraan itu disampaikan, uangnya Rp 130 juta ada di kamar," katanya.
Tersangka Wahyu lantas mengajak ke ruang tim pelindung yang sudah disiapkan alat untuk membunuh korban.
Alat tersebut berupa besi, batu, lakban, tali ditaruh di atas lemari.
Begitu uang Rp 130 juta diserahkan Wahyu ke tangan Abdul Gani, Kusnadi langsung memukul tengkuk korban dengan pipa besi hingga tersungkur.
Dalam kondisi tersungkur, Kurniadi menindih tubuh korban. Bersamaan dengan itu tersangka Boiran menjerat leher korban.
Caranya memasukkan kolong tali parasit kemudian menarik ke atas dari arah depan sampai korban tidak bergerak.
Tidak itu saja, Boiran juga memasukkan tas kresek warna biru ke kepala korban diteruskan tersangka Wahyu melakban dari leher sapai hidung korban.
"Korban ditelanjangi kemudian dimasukkan ke boks plastik ukuran 90 cm x 70 cm," papar Taufik.
Setelah itu, mayat korban yang sudah dimasukkan dalam kotak dipindahkan ke mobil yang sudah disiapkan oleh tersangka Wahyudi.
Selanjutnya mobil Toyota Avanza hitam siap berangkat ke Wonogiri dikemudikan Rahmad Dewaji, oknum TNI dibantu Kurniadi dan Boiran sekitar pukul 10.00 WIB.
Dalam perjalanan pembuangan mayat, kelompok ini juga diikuti Wahyudi dan Muryat tapi menggunakan mobil lain.