Sabtu, 30 Agustus 2025

Dimas Kanjeng Ditangkap

Bukan Soal Uang, Ternyata Ini Alasan Pengikut Dimas Kanjeng Enggan Pulang

AR pun sedikit tersinggung ketika dianggap tidak memiliki biaya untuk pulang.

Editor: Wahid Nurdin
surya/Galih Lintartika
Tenda pengikut asal Bali di padepokan dimas kanjeng 

Pengikut lainnya, AR menambahkan, alasannya bertahan di padepokan ini karena ingin memperdalam ilmu agama. Di padepokan, ia mengaku mendapatkan hidayah dan

pencerahan tentang islam yang sesungguhnya. Bahkan, ia pun terkadang sempat mendapatkan masukan positif dari pengikut lainnya.

“Di sini saya lebih pintar, dan istiqomah. Saya belajar banyak tentang arti kejujuran, dan ikhlas,” katanya.

Selain itu, dikatakan dia, di padepokan itu mendapatkan teman yang banyak. Ia bisa mendapatkan saudara seperjuangan, karena di padepokan banyak pengikut yang berasal dari luar daerah dan sebagainya.

“Saya mendapatkan banyak teman di sini. Di sini itu bukan hanya pengikut yang beragama islam, tapi ada yang kristen, katolik, hindu, dan budha. Semuanya akur menjadi satu, saya kira ini adalah arti kerukunan antar umat agama sesungguhnya,” paparnya.

Ia mengaku tidak ingin pulang ke rumahnya yang ada di Bali. Ia merasa lebih nyaman tinggal di padepokan.

Padahal, anak dan istrinya berada di Bali. Namun, ia berdalih sudah mendapatkan izin dan restu dari anak dan istrinya.

“Saya tetap akan pulang, tapi tidak sekarang. Saat ini saya sedang belajar agama yang sesungguhnya,” jelasnya.

AR pun sedikit tersinggung ketika dianggap tidak memiliki biaya untuk pulang.

Ia merasa memiliki uang untuk pulang, tanpa harus menunggu bantuan pemerintah. Ia terkadang merasa kesal dan marah, ketika dipaksa untuk pulang ke rumah.

“Ini adalah hak saya, jangan paksa saya untuk pulang. Toh saya juga masih pulang ke rumah kok selama ini, entah itu satu bulan sekali atau dua bulan sekali,” tegasnya.

Ditanya soal uang mahar, dan penggandaan atau lainnya, ketiga orang ini kompak mengaku tidak ada sistem seperti itu di padepokan.

Menurut AR, wajar ketika seseorang mau bergabung dengan padepokan itu ada biaya masuk atau pendaftarannya.

“Wajar toh kalau ada biaya masuknya, toh itupun tidak mahal. Saya dulu hanya membayar Rp 1 juta untuk masuk ini, selebihnya hanya sumbangan untuk pembangunan masjid, jalan, dan lainnya. Itu sifatnya tidak wajib, hanya sukarela,” tambahnya.(*)

Sumber: Surya
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan