Kisah Samitun, Nenek yang Bahagia Tinggal satu Atap Bareng Tiga Kambing
Samitun sangat menyayangi tiga kambingnya seperti seorang ibu yang menyayangi anak kandungnya.
Waktu itu, sekitar pukul 10.30, Samitun baru tiba di rumahnya. Ia baru saja pulang dari mencari rumput di hutan tak jauh dari rumahnya. "Habis cari rumput," katanya.
Setelah meletakkan keranjang berisi rumput, ia masuk ke dalam rumahnya dan menyapa tiga ekor kambingnya.
"Sik, sabar nggih," katanya sambil membuka pintu rumahnya yang terbuat dari anyaman bambu.
Blegon dan Koploh, tampak gembira melihat kedatangan majikannya. Begitu juga dengan Gembrut yang merupakan anak kambing perkawinan dari Blegon dan Koploh.
Seperti manusia, kambingnya ia beri makan tiga kali dalam sehari, pagi, siang, dan malam hari.
Sehari-hari ia mencari kayu bakar untuk dijual. Satu ikat atau satu gendong kayu biasanya dia jual Rp 10 ribu.
Selain itu, ia juga mengumpulkan kotoran kambingnya untuk dijual. Satu karung kotoran kambing biasanya dihargai Rp 10 ribu.
"Itu sudah laku, sudah dibayar. Uangnya sudah dipakai buat beli makan," katanya sambil menunjuk karung putih berisi kotoran kambing.
Dikatakan Samitun, ia sangat menyayangi tiga ekor kambingnya. Sudah ada beberapa orang yang hendak membelinya, namun ia belum mau menjualnya.
Samitun mengaku banyak saudaranya yang menawarinya untuk pindah dan hidup bersama mereka. Termasuk adiknya Wagiyem (70) adik kandungnya yang rumahnya berdempetan dengan rumahnya.
Namun, ia menolak karena tidak ingin mengganggu dan merepotkan. "Mereka kan sudah berkeluarga, punya keluarga sendiri," katanya.
Meski hidup pas-pasan, namun Samitun tak pernah mengeluh. Ia selalu bersyukur masih diberi umur panjang dan kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/samitun-85-memberi-makan-kambing-kesayangannya_20170422_171909.jpg)