Tragedi Kemanusiaan Rohingya
Pengungsi Rohingya di Sidoarjo Kehilangan Jejak Anggota Keluarga
Suaib mengaku sudah lama tidak berkomunikasi dengan orangtua dan adik-adiknya. Rekannya di Myanmar menyebut ibu bersama tiga adiknya di Bangladesh.
Editor:
Dewi Agustina
TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Sekitar sepuluh hari lalu, Usman menerima telepon dari keluarganya yang ada di Myanmar.
Melalui hubungan jarak jauh tersebut, Usman diberitahu oleh keluarganya bahwa rumah tempat tinggal keluarga sudah habis dibakar.
"Mama sambil menangis saat call waktu itu. Rumah sudah tidak ada, kampung kami juga sudah hangus," kata Usman, pengungsi Rohingnya yang sekarang tinggal di Rumah Susun (Rusun) Puspa Agro, Sidoarjo, beberapa hari lalu.
Menurut Usman, kejadiannya pada tanggal 28 Agustus lalu.
Dan sejak itu, ibu bersama saudaranya mengungsi ke kampung lain yang lokasinya tidak jauh dari sana.
Baca: Bambang Sugiarto Tewas Tabrakkan Diri ke KA Logawa, Padahal Minggu Depan Nikahkan Anaknya
Demi mencari tahu kabar tentang orangtua dan keluarganya di Myanmar, Usman mengaku aktif memantau berita-berita di televisi dan berbagai media lain, termasuk berkomunikasi dengan teman atau saudara yang ada di Myanmar.
Namun, sejauh ini dia belum mendapat kabar pasti bagaimana kondisi orangtua dan keluarganya.
Termasuk, lokasi keberadaan orang-orang yang dicintainya itu, juga belum bisa dipastikan.
Apakah masih di Myanmar atau mengungsi ke negara lain.
Hal serupa juga dirasakan Muhammad Suaib, juga pengungsi Rohingya yang tinggal di Rusun Puspa Agro.
Saban hari, dia selalu memantau berita tentang perkembangan situasi di Myanmar.
"Seperti kabar hari ini, saya diberitahu teman yang ada di sana bahwa ada lagi rumah yang dibakar, dan ada juga warga yang ditemukan meninggal dalam kondisi terbungkus karung," kata Suaib saat ditemui Surya di Rusun Puspa Agro, Kamis (7/9/2017) malam.
Dia makin sedih karena kabar tentang keluarganya belum didapat.
Suaib mengaku sudah lama tidak berkomunikasi dengan orangtua dan adik-adiknya.