Jumat, 24 April 2026

Mengharukan, Kisah Warga Magelang yang Terusir dari Tanah Kelahirannya

"Saya hanya keturunan Belanda. Tapi mengapa saya diusir dari tanah kelahiran saya Indonesia?"

Editor: Sugiyarto
(KOMPAS.com/Ika Fitriana )
Yvone (kiri) dan adiknya saat ditemui di Losmanan, Kota Magelang. (KOMPAS.com/Ika Fitriana ) 

"Kalau ketemu orang Indonesia, masih sering ada yang mengatakan kalau kami (orang Belanda) itu penjajah. Menyiksa orang Indonesia 300 tahun. Saya sedih sekali," katanya sambil menepuk dada.

Meski menyimpan dendam, sejujurnya hati kecil Yvone sangat merindukan tanah kelahirannya itu, serta sosok ibu dan dua adiknya.

Sampai suatu hari, sekitar tahun 1988, suami Yvone bertemu dengan keluarga asal Kampung Paten, Kota Magelang, di sebuah bengkel mobil di Belanda.

Yvone dan saudaranya ketika menemukan rumah masa kecilnya di kampung Boton, Kota Magelang, belum lama ini. (KOMPAS.com/Ika Fitriana )
Yvone dan saudaranya ketika menemukan rumah masa kecilnya di kampung Boton, Kota Magelang, belum lama ini. (KOMPAS.com/Ika Fitriana ) ()

Menemukan Keluarga

Suaminya, Lucky, yang ternyata juga memilik darah Indonesia, berinisiatif untuk mempertemukan Yvone dengan keluarga tersebut.

Yvone bahkan dibujuk suaminya agar mau bertemu mereka mengingat Yvone masih menyimpan kebencian.

"Saya dirayu, dibujuk, oleh suami saya, untuk bertemu mereka. Saya juga dipaksa supaya mau ke Indonesia (Kota Magelang) mencari rumah masa kecil saya, mama, dan adik-adik, dengan pertolongan keluarga itu. Saya masih dendam saat itu, tapi akhirnya saya luluh.... Saya rindu rumah saya," ungkap Yvone.

Masih di tahun 1988, Yvone menguatkan diri terbang ke Indonesia menuju Kota Magelang.

Dia dibantu keluarga asal Kampung Paten mencari hingga dipertemukan dengan salah satu adiknya, Yulia Christine, di Kampung Losmenan, Kota Magelang.

"Waktu bertemu (adik) serasa tidak percaya, dia ternyata masih ingat saya," ucapnya.

Sakit hati Yvone perlahan pulih. Dia seolah mempunyai harapan hidup baru dengan keluarga yang bertahun-tahun tidak bertemu.

Dia pun menerima takdir bahwa ibu dan salah satu adiknya telah tiada. Begitu juga ayahnya yang meninggal di Belanda tahun 1977.

Yvone juga semakin sering berkunjung ke rumah adiknya itu, yakni pada tahun 1989, 1990, 1991, 1992, 1995, 1998, dan Desember 2017-Januari 2018.

Yvone saat tiba di rumah masa kecilnya di Kampung Boton Kota Magelang, belum lama ini. (KOMPAS.com/Ika Fitriana )
Yvone saat tiba di rumah masa kecilnya di Kampung Boton Kota Magelang, belum lama ini. (KOMPAS.com/Ika Fitriana ) 

Rumah Masa Kecil

Pada Desember 2017 lalu, Yvone baru berkeinginan mencari rumah tempat tinggalnya dahulu, di Jalan Boton 2, Kota Magelang.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved