Breaking News:

Warga Terdampak Reaktivasi Kereta Cibatu-Garut Ancam Lakukan Gerakan Massal Jika Tak Ada Relokasi

Paguyuban masyarakat bantaran rel Garut meminta agar pemerintah menghentikan dulu proses pembongkaran sebelum ada solusi yang jelas dari pemerintah.

Tribun Jabar/Firman Wijaksana
Salah seorang warga Kampung Cibodas, Desa Keresek, Kecamatan Cibatu, Garut mulai membongkar rumah yang dibangun di atas jalur KA Cibatu-Garut, Kamis (17/1/2019). TRIBUN JABAR/FIRMAN WIJAKSANA 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNNEWS.COM, GARUT - Pembongkaran rumah yang terdampak reaktivasi jalur kereta Cibatu-Garut diklaim PT KAI sudah mencapai 30 persen. Ditargetkan pembongkaran selesai akhir Februari.

Menanggapi target pembongkaran tersebut, paguyuban masyarakat bantaran rel Garut meminta agar pemerintah menghentikan dulu proses pembongkaran sebelum ada solusi yang jelas dari pemerintah.

"Di Kelurahan Suci Kaler (Kecamatan Karangpawitan), sudah ada yang dibongkar juga. Tapi masih banyak yang belum. Rumah yang dibongkar karena warga takut," ucap Sekretaris paguyuban masyarakat bantaran rel Garut, Alimudin, Senin (4/2/2019).

Pihaknya tak menolak ada reaktivasi jalur kereta di Garut.

Hanya saja harus ada solusi dari pemerintah, seperti relokasi warga yang terdampak.

"Kalau belum ada solusi tetap akan tolak. Prinsipnya perjuangkan dulu semua. Baik warga yang terima uang kerahiman atau belum. Proses jalan dan minta solusi. Kalau tidak ada solusi akan lakukan gerakan massal," ujarnya.

Menurutnya, belum semua warga menerima uang bongkar.

Pasalnya warga masih menolak karena tak ada kejelasan.

Sejumlah warga pun menolak didata untuk diberi uang kerahiman.

Halaman
123
Editor: Dewi Agustina
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved