Cerita Pondok Pesantren di Gunungkidul, Ada Santri ODGJ hingga Lulusan S2 Luar Negeri

Cerita unik datang dari salah satu pondok pesantren di Kabupaten Gunung Kidul Pondok Pesantren (Ponpes) Ainul Yakin.

Editor: Endra Kurniawan
TRIBUNJOGJA.COM/Istimewa
Muhidin Isma Almatin alias Abi Guru Isma, pendiri Pondok Pesantren Ainul Yakin di Tepus, Gunungkidul. 

TRIBUNNEWS.COM - Cerita unik datang dari salah satu pondok pesantren di Kabupaten Gunung Kidul yang bernama Pondok Pesantren (Ponpes) Ainul Yakin.

Ponpes yang beralamat lengkap di Pedukuhan Karangtengah, Kalurahan Sumberwungu, Kapanewon Tepus, Gunungkidul menerima santri dari berbagai kalangan.

Mulai dari Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) hingga Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Bahkan ada santri lulusan S2 luar negeri yang menimba ilmu agama di ponpes ini.

Baca juga: Kisah YouTuber Rambah Bisnis Fashion Unik Bertema Luar Angkasa

Pemilik Ponpes Ainul Yakin, Muhidin Isma Almatin membagikan ceritanya.

Ia mengatakan, ponpesnya sudah berdiri sejak 2017 dan benar-benar menerima santri dari berbagai kalangan.

"Ada pula santri yang memiliki ketergantungan narkoba, hingga lulusan S2 luar negeri," ungkap Muhidin pada wartawan, Kamis (15/04/2021) lalu.

Pria yang disapa Abi Guru Isma ini menuturkan ia sebelumnya memiliki lembaga terapis di Kota Yogyakarta pada 2005. Beberapa tahun kemudian, berkembang jadi ponpes di 2012.

Sejak awal mendirikan ponpes, Abi memang berniat untuk menerima para santri dari kalangan terpinggirkan secara sosial. Namun upayanya tersebut sempat menjumpai berbagai rintangan.

Pasalnya, ponpes yang sebelumnya berada di Kampung Nitikan itu berada di tengah perkampungan warga. Konflik pun kerap terjadi lantaran ada santri yang masuk ke rumah mereka.

"Akhirnya diputuskan pindah ke Tepus ini. Namun sempat diragukan juga karena lokasinya jauh dan sulit air," jelas Abi.

Baca juga: Viral Video Kucing Peliharaan Lari Hampiri Ibu Pemulung yang Dulu Merawatnya, Ini Kisah Dibaliknya

Tak menyerah, ia lalu mendekati warga sekitar demi mendapatkan dukungan. Ponpes di lahan seluas 3.800 meter persegi pun lantas berdiri, dan warga setempat bersedia membantu pendirian.

Mereka pun juga bersedia menjadi pengajar dan pengasuh para santri. Total saat ini ada 53 warga setempat yang jadi pengasuh. Sedangkan jumlah santrinya saat ini mencapai 143 orang.

Santri itu terdiri atas 17 ODGJ, santri umum sekitar 30-an orang, dan sisanya ABK. Abi juga menyebut masih ada 200-an santri yang antri ingin bergabung ke ponpes miliknya itu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved