Minggu, 31 Agustus 2025

Viral Ladang Jagung Seluas 2 Hektar Ludes Dimakan Tikus Dalam Semalam di Lampung, Ini Kata Petani

Hama tikus menyerang lahan pertanian warga di Kampung Rama Otama, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah.

Editor: Adi Suhendi
Kementan
Ilustrasi ladang jagung. 

TRIBUNNEWS.COM, LAMPUNG TENGAH - Hama tikus menyerang lahan pertanian warga di Kampung Rama Otama, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah.

Kehadiran hama tersebut pun viral di media sosial, lantaran jagung di ladang seluas 2 hektare ludes dimakan tikus hanya dalam waktu satu malam.

Dalam video yang diunggah di media sosial facebook, memperlihatkan ladang jagung habis tak bersisa dimakan hewan pengerat tersebut.

Saat dikonfirmasi, Kapolsek Seputih Raman Iptu Chandra Dinata membenarkan terjadinya peristiwa ladang jagung yang habis dimakan tikus dalam waktu semalam itu.

Dia mengatakan, peristiwa tersebut dilaporkan terjadi sekitar sepekan lalu oleh para petani di Kecamatan Seputih Raman.

Baca juga: Seorang Warga Madiun Tewas di Areal Persawahan, Diduga Tersengat Listrik Jebakan Tikus

Chandra mengatakan, kejadian itu telah ditindaklanjuti oleh dinas terkait, TNI/Polri, serta masyarakat, dengan melakukan gropyokan bersama-sama.

Untuk diketahui, gropyokan adalah kegiatan gotong-royong membasmi tikus sawah, dengan cara mengasapi lubang tempat tikus bersarang menggunakan gas belerang.

Kegiatan gotong-royong untuk menumpas tikus itu telah dilakukan pada Kamis (3/6/2021).

"Kemarin dapet 100-an (tikus) kurang lebih," kata Chandra saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (5/6/2021).

Chandra mengatakan, populasi tikus di kawasan tempat ladang jagung itu memang berada dalam kondisi berlebih.

Baca juga: IRT yang Hamil 9 Bulan di Lampung Babak Belur Dianiaya Suami Lalu Dikurung dalam Rumah

"Lubang tikusnya, di setiap sawah itu luar biasa. Banyak sekali," kata Chandra.

Dia menyebutkan, penyebab membeludaknya populasi tikus itu salah satunya adalah karena lokasi ladang jagung yang berdekatan dengan perkebunan karet.

"Berdekatan dengan lahan-lahan karet. Hama-hama itu kan dari sana," kata Chandra.

Selain itu, maraknya penangkapan ular sawah juga ditengarai sebagai penyebab populasi tikus membeludak.

Berkurangnya populasi ular, yang merupakan predator alami tikus, membuat pertumbuhan populasi tikus sawah menjadi tak terkendali.

"Banyak yang nyari ular sawah masalahnya, sekarang ini. Untuk dijual. Iya akhirnya (berdampak) ke populasi tikus yang luar biasa itu," imbuhnya.

Chandra mengatakan, gropyokan akan kembali dilakukan Minggu (6/6/2021) pukul 06.00 pagi, dengan melibatkan seluruh petani di Kecamatan Seputih Raman dan instansi terkait.

Halaman
12
Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan