Jumat, 29 Agustus 2025

Sosok Ipda Ahmad Effendi, Pelaku Penganiayaan Siswa SMA di Asahan, Korban Tewas saat Dirawat di RS

Tiga tersangka kasus penganiayaan siswa SMA di Asahan jalani pra rekonstruksi. Korban bernama Pandu dianiaya saat menonton balap liar.

Penulis: Faisal Mohay
Tribun Medan/Alif
EKSHUMASI JENAZAH - Persiapan ekshumasi jasad Pandu Brata Siregar (18) siswa sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Asahan meninggal dunia diduga akibat dianiaya oleh oknum polisi, Minggu (16/3/2025). Ekshumasi diakan dilakukan di pemakaman korban di Dusun I, Desa Parlaki Tangan, Kecamatan Ujung Padang, Kabupaten Simalungun. 

TRIBUNNEWS.COM - Kasus kematian siswa SMA di Asahan, Sumatra Utara masih dalam proses penyelidikan.

Korban bernama Pandu Brata Siregar (18) dianiaya oknum polisi pada Minggu (9/3/2025) dan tewas di rumah sakit pada Senin (10/3/2025). 

Pra-rekonstruksi kasus penganiayaan digelar pada Senin (17/3/2025) dengan menghadirkan tiga tersangka.

Para tersangka terdiri dari satu oknum polisi bernama Ipda Ahmad Effendi serta dua warga sipil, Dimas Adrianto dan Yudi Siswoyo.

Ipda Ahmad Effendi yang menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Simpang Empat terlihat mengenakan rompi tahanan dan tangan terborgol.

Pra-rekonstruksi digelar di sebuah warung lokasi ketiga tersangka berkumpul.

Mereka kemudian mendengar adanya aksi balap liar dan menghampiri para siswa SMA.

Para tersangka membubarkan balap liar menggunakan dua sepeda motor.

Sehari sebelumnya, Polres Asahan melakukan ekshumasi jenazah korban di Desa Parlaki Tangan, Ujung Padang, Kabupaten Simalungun.

Kapolres Asahan, AKBP Afdhal Junaidi, menyatakan hasil ekshumasi akan diungkap secara transparan.

"Kita sedang melakukan ekshumasi dan autopsi terhadap jasad korban," bebernya, Minggu (16/3/2025).

Baca juga: Kejanggalan pada Jasad Siswa SMA di Asahan yang Diduga Tewas Dianiaya Polisi, Ditemukan Bercak Merah

Ia berharap penyebab kematian korban dapat terungkap setelah ekshumasi.

"Mohon doanya, semoga hasilnya cepat bisa kita rilis, pastinya dengan ilmu kedokteran forensik yang dilakukan saat ini," sambungnya.

Dokter forensik RS Bhayangkara TK II Medan, dr Ismurizal SpF, menyatakan kematian korban tak wajar setelah ditemukan sejumlah bercak darah.

"Sudah kita autopsi, sudah kita ambil semua dan kita lihat. Nanti dia dirangkum semua ya," bebernya, Minggu dikutip dari TribunMedan.com.

Hasil autopsi akan keluar dua pekan kedepan untuk mengungkap penyebab kematian korban.

"Kan dia sudah dikubur, kita lihatlah nanti. Ada memang seperti warna kemerahan gitu ya. Tapi, belum bisa kita simpulkan karena harus ada pemeriksaan tambahan," lanjutnya.

Sementara itu kuasa hukum keluarga korban, Chrisye Sitorus, menyatakan ada dokter independen yang dihadirkan untuk mengawal proses ekshumasi.

Baca juga: Babak Baru Siswa SMA Diduga Tewas usai Ditendang Polisi, Polres Asahan Bentuk Tim Khusus

"Kami menghadirkan dokter ini diharapkan menjadi pembanding dari dokter yang kita hadirkan dan juga dari dokter yang dihadirkan pihak kepolisian," tuturnya.

Menurutnya, kematian Pandu janggal karena tak memiliki riwayat penyakit.

"Karena sebelumnya, dia ini sehat. Tiba-tiba meninggal dunia. Kami merasa ada kejanggalan atas kematian korban," tandasnya.

Sosok Korban

Berdasarkan keterangan dokter, Pandu mengalami luka bocor di lambung akibat pukulan benda tumpul.

Kerabat korban yang enggan disebut identitasnya mengatakan Pandu mengaku ditendang dua kali oleh oknum polisi.

"Jadi awalnya dia ini nonton balap lari sama teman-temannya, di dekat PT Sintong. Kemudian, ada polisi dua sepeda motor ngejar bubarkan balap itu."

"Karena kewalahan, mereka satu sepeda motor tarik lima," bebernya, Selasa (11/3/2025).

Baca juga: Polres Asahan Bentuk Tim Khusus, Selidiki Kematian Siswa yang Diduga Dianiaya Polisi

Korban dianiaya setelah kejar-kejaran dengan oknum polisi menggunakan sepeda motor.

"Setelah dikejar, satu orang lompat kemudian lari. Lepas dari kejaran polisi. Saat korban yang lompat, terjatuh dan pengakuan korban saat itu langsung ditendang sebanyak dua kali," lanjutnya.

Korban kemudian dibawa ke Polsek Simpang Empat dan dijemput keluarga karena mengalami sakit.

Ia menerangkan Pandu merupakan yatim piatu dan keluarga sedang berunding untuk melaporkan kasus ini ke Propam Polres Asahan.

"Saat ini sudah dalam proses pemakaman, laporan ini kami masih pertimbangkan apakah akan membuat laporan karena masalah biaya juga," lanjutnya.

Selama sekolah, Pandu selalu latihan fisik karena bercita-cita ingin masuk TNI.

"Dia juga bukan anak yang nakal, saya tau dia juga pelari, dia berprestasi. Terbukti, setiap dia ikuti lomba, dia selalu juara," tandasnya.

Ia membantah keterangan Polres Asahan yang menyatakan Pandu positif menggunakan narkoba.

"Fitnah, itu tidak benar. Karena saya setiap hari dengan korban. Saya tau persis kehidupan dia (korban). Jangankan sabu, rokok pun tidak," tegasnya.

Sebagian artikel telah tayang di TribunMedan.com dengan judul Ipda Ahmad Efendi, Kanit Reskrim Polsek Simpang Tersangka Kasus Penganiayaan Siswa di Asahan

(Tribunnews.com/Mohay) (TribunMedan.com/Alif Alqodri)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan