Kamis, 23 April 2026

Dedi Mulyadi Pimpin Jabar

Perusahaan Bus di Jabar Merugi Akibat Larangan Study Tour, Sopir Terpaksa Kerja Serabutan

Larangan study tour di Jabar bikin pendapatan biro pariwisata anjlok. Sopir terpaksa cari kerja serabutan. Dedi Mulyadi tegas tak akan mencabut aturan

Penulis: Faisal Mohay
Editor: Bobby Wiratama
/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
DEDI MULYADI DIDEMO - Pelaku usaha pariwisata menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (21/7/2025). Aksi diikuti sekitar seribuan pelaku usaha pariwisata dengan memblokade lokasi aksi dengan memarkirkan ratusan bus pariwisata yang datang dari sejumlah daerah di Jawa Barat. Massa aksi sempat melakukan pelemparan botol air mineral dan berusaha mendobrak pintu gerbang Gedung Sate karena tidak bisa bertemu dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dalam aksinya, mereka mendesak Gubernur Jawa Barat mencabut Surat Edaran (SE) nomor 45/PK.03.03.KESRA tentang larangan menggelar studi tour. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM - Kebijakan larangan study tour untuk siswa Jawa Barat dianggap merugikan biro pariwisata yang di dalamnya ada sopir hingga kernet.

Meski sempat didemo pelaku pariwisata, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tak akan mencabut larangan study tour.

Aturan tersebut dibuat setelah adanya kecelakaan bus rombongan SMK Lingga Kencana Depok, Jawa Barat di Ciater, Subang pada 11 Mei 2024.

Sebanyak 11 orang meninggal akibat bus mengalami rem blong.

Dedi Mulyadi juga mengkritik kegiatan study tour yang selama ini membebani keuangan wali murid.

Aturan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 45/PK.03.03.KESRA tentang larangan menggelar study tour.

Study tour merupakan kegiatan sekolah yang menggabungkan pembelajaran dengan rekreasi sehingga siswa dapat belajar sambil menikmati perjalanan.

Perwakilan PO Bus Pariwisata PT Kaliptra Pesona Mandiri (KPM), Alex Firmansyah, mengatakan pendapatan perusahaan berkurang akibat kebijakan Dedi Mulyadi.

Ia memberi imbauan kepada sopir dan kondektur untuk mencari pekerjaan serabutan karena jumlah perjalanan berkurang.

"Jumlah sopir kami ada 10, kondektur ada 10. Kita terpaksa dorong mereka nyari serabutan lain."

"Kita juga kasihan kalau mereka ditahan di PO tidak ada pemasukan," bebernya, Senin (28/7/2025), dikutip dari TribunJabar.id.

Baca juga: Polemik Larangan Study Tour di Jabar, Bupati Bandung Minta Aturan Tak Dipolitisasi

Pesanan bus pariwisata menurun hingga 50 persen setelah aturan larangan study tour.

"Makanya kita saranin cari kerjaan lain dulu. Ketika ada yang jalan, kita panggil," imbuhnya.

"Satu unit paling 5 kali dalam satu bulan, kita punya 13 unit bus, rata-rata sebulan 80 persen keluar, sekarang tinggal 40 persen, jadi setengahnya," tukasnya.

Alex meminta larangan study tour dibarengi dengan kebijakan yang berpihak kepada biro travel.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved