Kamis, 7 Mei 2026

Dari Ember ke Perubahan: Cerita Warga Banjar Kerta Petasikan Menata Sampah dari Rumah

Sejak Januari 2025, warga di banjar ini mulai membiasakan diri memilah sampah langsung dari rumah. 

Tayang:
Editor: Dodi Esvandi
HANDOUT
Program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) menjadikan banjar ini sebagai laboratorium hidup untuk melihat bagaimana edukasi dan partisipasi warga bisa mengubah kebiasaan lama. 

TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR — Di balik gang-gang sempit dan rumah-rumah padat penduduk di Banjar Kerta Petasikan, Desa Sidakarya, Denpasar Selatan, sebuah perubahan besar sedang berlangsung—dimulai dari hal kecil: memilah sampah.

Sejak Januari 2025, warga di banjar ini mulai membiasakan diri memilah sampah langsung dari rumah. 

Bukan karena aturan ketat, melainkan karena kesadaran yang tumbuh dari edukasi intensif. 

Program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) menjadikan banjar ini sebagai laboratorium hidup untuk melihat bagaimana edukasi dan partisipasi warga bisa mengubah kebiasaan lama.

Selama dua bulan pendampingan, hasilnya mencengangkan: dari 235 kepala keluarga, 186 KK (sekitar 79 persen) telah konsisten memilah sampah organik dan anorganik sesuai jadwal. 

Angka ini melampaui target awal sebesar 70?n menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari ember di dapur.

Kenapa Banjar Kerta Petasikan?

Banjar ini bukan dipilih karena sudah ideal, melainkan karena siap berubah. 

Lima alasan utama menjadikannya lokasi pilot project:

  • Sudah terhubung dengan layanan TPST (Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu)
  • Memiliki kelembagaan TPS3R yang aktif
  • Dukungan kuat dari tokoh lokal
  • Warga mulai teredukasi soal pemilahan
  • Mayoritas penduduk adalah pendatang yang lebih terbuka terhadap kebiasaan baru

Uniknya, warga pendatang justru menjadi kekuatan. Mereka cepat beradaptasi dan antusias mengikuti edukasi yang diberikan.

Baca juga: Warga Indramayu Mulai Pilah Sampah dari Rumah, ISWMP Dorong Perubahan Menyeluruh dari Hulu ke Hilir

Dua Bulan, Banyak Aksi

Program dimulai 17 Januari hingga 16 Maret 2025. 

Kegiatan diawali dengan koordinasi bersama DLHK Kota Denpasar, Perbekel Desa Sidakarya, tokoh banjar, dan warga. Lalu dilanjutkan dengan:

  • FGD dan sosialisasi tatap muka
  • Pembagian alat bantu: ember, karung, dropbox, timbangan, dan stiker rumah
  • Penjadwalan pengangkutan sampah: organik diangkut Senin, Kamis, Sabtu; anorganik Selasa dan Jumat
  • Penimbangan tiga kali seminggu, dicatat di logbook, diawasi kader edukasi dan tim fasilitator

Sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan ternak babi, sementara anorganik dikirim ke BUMDes dan pengepul untuk didaur ulang.

ISWMP: Menyentuh dari Hulu ke Hilir

ISWMP tak hanya membangun infrastruktur, tapi juga membenahi sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Lima pilar utama program ini:

  • Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS)
  • Penguatan regulasi daerah
  • Peningkatan partisipasi masyarakat
  • Penguatan kelembagaan
  • Pengembangan skema pembiayaan dan fasilitas teknologi

Program ini melibatkan lintas sektor: DLHK Kota Denpasar, BPBPK Bali, Pemerintah Desa Sidakarya, hingga warga banjar.

Edukasi dilakukan lewat FGD, kampanye publik, media KIE, dan kunjungan langsung ke rumah warga.

Bukti Nyata: Perubahan Bisa Dimulai dari Rumah
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved