Kamis, 9 April 2026

Program Makan Bergizi Gratis

Wali Murid Dukung Sekolah Tolak MBG, Cemas Program Dapur Sehat Digantikan, Wali Kota Solo Buka Suara

Orangtua murid kompak tolak tawaran sekolah terima MBG, lebih percaya dapur sehat di sekolah. Wali Kota Solo pastikan tak akan gantikan program.

Penulis: Isti Prasetya
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
MBG - Sejumlah pelajar menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) saat launching program MBG di Perguruan Muhammadiyah Antapani, Jalan Kadipaten Raya, Antapani, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (25/8/2025). Di Kota Solo, orangtua murid kompak tolak tawaran sekolah terima MBG, lebih percaya dapur sehat di sekolah. Wali Kota Solo pastikan tak akan gantikan program. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

TRIBUNNEWS.COM - Sekolah swasta di Kota Solo, Jawa Tengah menolak tawaran menjadi sasaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diajukan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sikap itu diambil dengan penuh pertimbangan lantaran Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 1 Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo sudah memiliki program dapur sehat sejak 2015.

Hal ini diungkapkan oleh Humas SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Dwi Jatmiko yang ditemui pewarta Tribun Solo, Andreas Chris Febrianto.

"Sejak 2015 kita sudah memiliki pelopor dapur sehat ramah anak. Sekolah sebenarnya menerima, tetapi kami akan survei dulu setuju atau tidak setuju," ujar Dwi Jatmiko, Sabtu (27/9/2025).

"Dari Dinas Pendidikan juga sudah menyatakan kalau ini di-pending. Mengapa, ini sudah 10 tahun aparat datang ke sekolah, itu kan tidak elok. Kepala sekolah kami nanti juga akan ke Jakarta untuk membahas ini," sambungnya.

Menurut Dwi, selama satu dekade menjalankan program dapur sehat ramah anak, sekolah tidak pernah mengalami kendala.

Program tersebut juga telah mendapat persetujuan dari para wali murid.

"Yang dilakukan di sekolah itu tim dapur selalu bisa mengontrol dan harganya terjangkau untuk semua siswa baik yang sejahtera maupun pra sejahtera," jelas Dwi.

Dwi menambahkan, kekhawatiran utama pihak sekolah adalah soal keamanan makanan.

Ia mempertanyakan pihak yang akan bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kalau nanti sampai ada kejadian (setelah MBG), siapa yang akan tanggung jawab kalau sampai ada keracunan. Intinya sekolah menolak itu siapa yang mau menjamin kalau ada keracunan," pungkas Dwi.

Baca juga: Mengintip Dapur MBG yang Picu Keracunan Massal: Sarang Burung, Bangunan Ilegal, hingga Eks Gudang

Penolakan terhadap tawaran MBG juga mendapat dukungan penuh dari para wali murid.

Mereka kompak menyatakan ketidaksepakatannya saat SD Muhammadiyah 1 Ketelan ditunjuk sebagai salah satu penerima program MBG.

Wali murid mengaku sempat cemas lantaran tawaran program MBG ini disebut-sebut akan tetap dijalankan, meskipun sekolah sudah menjalankan program dapur sehat.

Terlebih kasus keracunan menu MBG marak terjadi di berbagai sekolah di Indonesia.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved