Tak Punya Seragam, Anak di Maluku Putus Sekolah Meski SMP Beberapa Meter dari Rumah
Kisah pilu ibu di Maluku Tengah, anaknya putus sekolah karena tak mampu beli seragam, kini kembali belajar lewat Sekolah Rakyat.
"Saya tanya apa ada baju sekolah atau tidak. Karena tersedia baju sekolah, anak saya akhirnya mau bersekolah kembali," ulasnya.
Sebenarnya, lanjut Sumiati, ia sudah membelikan anaknya sepasang baju sekolah. "Tapi anak kami yang sudah tidak mau sekolah lagi," akui dia.
Sekolah SMP jaraknya dekat dengan rumah keluarga Sumiati, hanya berjarak beberapa meter dari samping rumah.
"Tapi anak kami bersikukuh untuk ikut Sekolah Rakyat tentu atas informasi dari pendamping PKH. Kami sebagai orang tua mendukung, dan kami juga senang, di Sekolah Rakyat bisa mengaji dan juga Shalat," tuturnya.
Kalau sekolah di kampung, Sumiati membeberkan bahwa anak-anak nakal, tidak sopan, tidak pernah dengar-dengaran bahkan oleh perkataan guru.
"Ada anak yang pecah kaca sekolah, tapi nama anak saya yang tercoreng, kebetulan rumah sangat berdekatan di samping sekolah. Kalau pagar sekolah terbuka kami yang jadi sasaran, pagar sekolah roboh mereka salahkan kami yang ada di samping sekolah. Lampu sekolah hilang, pasti warga Amdua yang disalahkan," cerita Sumiati.
Diketahui, Sumiati dan suaminya kerja serabutan, Sumiati bertugas menjajakan dagangan di pasar juga bertani.
Sementara suaminya, seorang tukang yag juga aktifitas lainnya bertani.
"Saya dan suami aktifitas keseharian petani, suami saya juga tukang. Selain itu, saya sehari-hari jualan sayur, ada sayur daun singkong, rebung, gepe dan lainnya," tandasnya.
Melalui program Sekolah Rakyat, Sumiati menyampaikan terimakasih untuk Presiden.
"Saya berdoa semoga anak saya sukses," harap Sumiati.
Artikel ini telah tayang di TribunAmbon.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-ruang-kelas-ilustrasi-sekolah-ilustrasi-kelas-7657.jpg)