Sabtu, 11 April 2026

Guru Tetap Mengajar di Sekolah yang Bocor Meski Gaji Rp300 Ribu per Bulan Sering Telat

Guru MTs LKMD Werinama tetap mengajar meski sekolah bocor dan gaji Rp300 ribu sering telat, demi pendidikan anak-anak Maluku.

Editor: Glery Lazuardi
ISTIMEWA
Guru di MTs LKMD Werinama, Muhammad Sudin Nurbaty, menunjuk atap bocor di ruang kelas rusak tempat ia mengajar. Meski gaji hanya Rp300 ribu dan fasilitas memprihatinkan, ia tetap berdedikasi mendidik murid-muridnya di Seram Bagian Timur, Maluku. 

TRIBUNNEWS.COM - Potret perjuangan guru di Indonesia untuk mengajar siswa didik. Seorang guru bernama Muhammad Sudin Nurbaty tetap mengajar di tengah keterbatasan.

Dia tetap mengajar dengan penuh dedikasi meski menghadapi keterbatasan fasilitas, gaji rendah, dan akses pendidikan yang tidak merata, terutama di daerah terpencil.

Mereka menjadi garda terdepan dalam menjaga harapan anak-anak bangsa di tengah tantangan yang kompleks.

Dia mengajar di Madrasah Tsanawiyah (MTs) LKMD Werinama di Kecamatan Werinama, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku.

Namun, tempat memberikan pendidikan kepada siswa sangat jauh dari layak. 

Berdasarkan pemantauan dalam foto yang diterima, kondisi sebuah ruang kelas atau bangunan yang mengalami kerusakan parah.

Seorang pria berdiri di dalam ruangan tersebut, menunjuk ke arah sudut atas dinding—kemungkinan besar menunjukkan titik kerusakan atau pertumbuhan jamur.

Adanya kerusakan struktural seperti cat yang mengelupas, dinding lembab, dan langit-langit yang dipenuhi jamur atau noda air.

Ini menandakan kurangnya perawatan dan potensi bahaya kesehatan. 

Cahaya alami masuk melalui jendela besar berbingkai hijau dengan desain kayu silang di bagian atas, memberikan kontras antara keindahan luar dan kerusakan dalam.

Terlihat atap yang bocor, dinding lapuk, kaca jendela pecah, dan lantainya hancur. 

Namun di tengah kondisi itu, para guru masih setia datang mengajar setiap harinya.

“Sampai sekarang anak-anak belajar di ruang bocor, duduk di lantai, kursi pakai plastik, meja pun masih kurang,” ujar Muhammad Sudin Nurbaty, salah satu guru di sekolah tersebut, Rabu (15/10/2025).

Sudin menceritakan, sekolah tempatnya mengabdi itu memiliki tujuh ruangan belajar.

Tetapi hanya tiga ruang belajar yang masih bisa digunakan, selebihnya rusak berat, bahkan beberapa sudah berubah fungsi menjadi gudang.

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved