Guru Tetap Mengajar di Sekolah yang Bocor Meski Gaji Rp300 Ribu per Bulan Sering Telat
Guru MTs LKMD Werinama tetap mengajar meski sekolah bocor dan gaji Rp300 ribu sering telat, demi pendidikan anak-anak Maluku.
“Atapnya bocor semua, lantainya pecah. Ruangan bekas kantor sekarang sudah jadi gudang karena tidak bisa dipakai lagi,” ungkapnya.
Lebih lanjut diakuinya, proses belajar mengajar sering terganggu saat hujan.
Air yang masuk dari celah atap membuat siswa harus memindahkan meja kursi dan belajar di sisi ruangan yang masih kering.
“Kalau hujan, kami siasati. Bocor di dekat pintu, jadi meja guru kami singkirkan. Anak-anak minggir biar tidak kena air,” katanya.
Kondisi memprihatinkan itu bukan hanya pada ruang kelas, tetapi juga pada asilitas umum, lantaran hanya satu kamar mandi yang digunakan bersama antara guru dan murid.
“Itu WC satu saja, sudah campur antara guru dan murid. Letaknya di antara dua dinding, sudah rusak juga,” ujar Sudin.
Meski fasilitas minim, semangat para guru tak pernah surut.
Dari total 10 guru di MTs LKMD Werinama, hanya satu orang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), selebihnya adalah relawan.
“Guru-guru di sini kebanyakan relawan. Dua di antaranya malah sudah pensiun tapi masih mengajar karena niatnya mau jadikan amal jariyah,” ungkapnya.
Gaji pun nyaris tak bisa diandalkan. Menurut Sudin, mereka hanya menerima upah sekitar Rp. 300 ribu setiap bulannya, itu pun sering terlambat.
“Tiga bulan baru dapat Rp. 300 ribuan, kadang juga belum dibayar. Tapi kami tetap datang, karena ini ibadah,” ucapnya lirih.
Sudin mengaku tak kuasa melihat sekolah agama itu dibiarkan rusak. Ia dan beberapa guru bahkan berinisiatif memperbaiki sebagian bangunan menggunakan dana pribadi.
“Kami punya kepala sekolah sekarang, Pak Usman Suni, baru dua tahun. Beliau juga perihatin sekali. Sekolah ini sudah seperti bangun dari nol lagi,” katanya.
Pihaknya menilai, sekolah tersebut seolah terabaikan, padahal letaknya tidak jauh dari jalan lintas Seram.
“Ini bukan sekolah di pedalaman. Transportasi gampang, tapi orang-orang sepertinya tutup mata. Setiap musim pemilihan, mereka lewat depan sekolah ini,” keluh Sudin.
Ia berharap pemerintah daerah hingga pusat mau turun tangan memperbaiki bangunan sekolah tersebut.
“Kalau pejabat datang lihat langsung, saya yakin mereka akan tergerak. Karena kalau dibiarkan begini, dosa besar. Ini sekolah agama, bukan kandang,” tutupnya.
Artikel ini telah tayang di TribunAmbon.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Guru-di-MTs-LKMD-Werinama-Muhammad-Sudin-Nurbaty-menunjuk-atap-bocor-di-ruang-kelas-rusak.jpg)