Kisah Wukirsari: Dari Reruntuhan ke Panggung Dunia, Bangkit Lewat Warisan Terbaik
Desa Wukirsari di Imogiri, Bantul bangkit pasca gempa 2006. Kampung Batik Giriloyo membawanya meraih penghargaan Desa Wisata Terbaik Dunia pada 2024.
Di sanalah pada tahun 1632 makam para raja-raja mulai dibangun dan menjadi awal masyarakat Wukirsari mengenal batik.
Setiap kegiatan di komplek makam, para abdi dalem dan bangsawan dari Kerajaan Mataram sering mengenakan batik.
Karena kebutuhan kain batik yang cukup tinggi itu, pihak keraton mulai mencari pembatik untuk dipekerjakan.
"Dua tahun sejak mulai di bangun, masyarakat di sekitar komplek makam mulai mendapat transfer ilmu pengetahuan tentang membatik."
"Nenek moyang kami dulu banyak yang menjadi abdi dalem Keraton yang bertugas merawat kompleks makam. Para istri abdi dalem ini kemudian diajari untuk membatik," tutur Nur Ahmadi.
Tradisi ini terus berlanjut dan ilmu membatik diturunkan turun-temurun dari generasi ke generasi selama beratus tahun. Hingga dekade 1990-an masyarakat di sekitar makam masih tetap membatik.
Namun, mereka hanya sekadar membatik di atas kain putih, tidak sampai menjadi batik utuh yang siap untuk dipakai atau dijual.
Para pembatik belum tahu bagaimana cara untuk mewarnainya, jadi mereka tidak bisa mereka menjual sendiri.
"Pembatik di sini kala itu masih bekerja untuk para juragan batik di pusat kota, menjual hasil setengah jadi yang kemudian disempurnakan di sekitar kawasan keraton," kata Nur Ahmadi.
Alhasil, secara penghasilan pun masih sangat sedikit, belum cukup untuk menyejahterakan warga.
Barulah pada 2006, gempa besar Yogyakarta menjadi titik balik kebangkitan Wukirsari.
Menjadi Tempat Edu-Wisata
Setahun pasca-gempa 2006, aktifitas membatik di Wukirsari mulai berjalan kembali.
Setelah mendapat pendampingan dari pihak luar, perajin batik yang tadinya hanya menjadi buruh batik tulis setengah jadi kini bisa membuat sendiri secara mandiri sampai siap dijual.
Namun, kendala lain muncul. Masalah pemasaran jadi problem yang dihadapi para pembatik.
Tidak setiap batik yang dibuat itu bisa langsung terjual. Padahal untuk membuatnya saja membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Bisa sampai satu bulan bahkan lebih untuk satu kain yang berukuran 3 x 5 meter," tutur Nur Ahmadi.
"Disisi lain, warga ini kan juga butuh makan untuk menghidupi keluarganya. Bagaimana bisa bertahan kalau penjualan dari batik tidak pasti," imbuhnya.
Soal harga, sebenarnya bisa dibilang lumayan untuk mencukupi keperluan sehari-hari ketika terjual.
Dulu harga yang dijual mulai Rp100 ribu sampai Rp 300 ribu. Adapun harga saat ini mulai Rp500 ribu untuk motif sederhana, hingga Rp2,5 juta untuk batik dua warna yang rumit.
Namun karena tidak pastinya dalam penjualan, hal ini membuat para perajin terus gelisah.
Paguyuban perajin batik menjadi salah satu wadah untuk menemukan solusi dari setiap masalah yang dihadapi para pembatik.
Muncul ide untuk mengembangkan sebuah tempat berbasis eduwisata sekaligus tempat pelestarian batik.
Maklum, kala itu isu seputar batik ini cukup hangat lantaran di klaim oleh beberapa negara sebagai warisan budaya mereka.
Pada 2 Oktober 2009, Batik akhirnya diakui sebagai warisan budaya takbenda milik Indonesia.
Pengakuan ini ditetapkan oleh UNESCO, Badan PBB yang berfokus pada pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, pengakuan yang akhirnya menghapuskan polemik yang melibatkan beberapa negara.
Dari situ akhirnya ide menjadikan Wukirsari sebagai Desa Wisata dan mengembangkan Kampung Batik Giriloyo sebagai pusat Eduwisata dan Pelestarian Budaya benar-benar direalisasikan.
"Aktifitas membatik tetap berjalan di rumah-rumah warga. Tapi kita juga mengembangkan satu tempat wisata edukasi tentang batik," terang Nur Ahmadi.
Dengan dikembangkannya Kampung Batik Giriloyo, wisatawan bisa merasakan pengalaman membatik secara langsung dengan bimbingan dari ahlinya.
Untuk harga paket wisata, saat ini pengunjung cukup membayar Rp250 ribu. Ini bisa untuk lima orang, nanti akan mendapat kain 30x30 cm untuk membatik.
Nantinya, pengunjung juga bisa membawa pulang karya batik yang telah selesai dibuat.
Nur Ahmadi menceritakan, di masa awal membentuk Desa Wisata, kunjungan ke Kampung Batik Giriloyo ini masih sedikit.
"Kadang hari ini ada kunjungan, besok kosong, kadang juga seminggu sekali atau dua kali. Bahkan juga pernah sebulan itu kosong," katanya.
Namun ia tak menyerah begitu saja. Berkat kerja keras dan kesadaran bersama pengurus lainnya, mereka kini menikmati hasilnya.
Arus kunjungan wisatawan kian meningkat setiap tahun. Pada 2019 kunjungan wisata mencapai 29.000 orang.
"Namun saat pandemi melanda, wisatawan menurun drastis. Pada 2020 itu turun signifkan, dan 2021 kunjungannya sangat sepi," kata Nur Ahmadi.
Baru pada 2022, kunjungan ke Wukirsari kembali ramai, tercatat ada 24.500 orang yang berkunjung pada tahun itu.
Jumlah ini terus naik, pada 2023 sebanyak 41 ribu dan 2024 mencapai 45 ribu orang berkunjung ke Wukirsari.
"Dulu, banyak yang tidak percaya. Dikiranya hanya jadi alat untuk mencari bantuan," kata Nur Ahmadi.
"Kami menjawabnya tidak dengan suara, tapi dengan pembuktian. Kalau menjawab dengan suara malah jadi menjadikan padu (pertengkaran)," sambungnya.
"Kami buktikan. Lho.. ini lhoo.. hasilnya, ada kunjungan segini banyaknya, pendapatannya sekian, yang diterima masyarakat sekian," kata dia dengan semangat.
Banyaknya wisatawan yang datang membuat perputaran uang di Wukirsari mencapai ratusan juta per bulan.
Hitung saja, jika wisatawan mengambil paket membatik minimal Rp50 ribu per orang, dan ada 4 ribu per bulannya, maka uang yang beredar mencapai Rp 200 juta.
Kini, di Kampung Batik Giriloyo, terdapat gerai pamer, ruang pertemuan, galeri batik, dan gazebo-gazebo sebagai tempat untuk belajar membatik.
Ruang-ruang ini menjadi titik berkumpulnya kegiatan perekonomian dan pariwisata oleh masyarakat dan pelaku wisata.
Baca juga: UMKM Binaan Astra Catat Transaksi Rp70,79 Miliar di Trade Expo Indonesia 2025
Masyarakat Rasakan Dampaknya
Cerita tentang gempa 2006 hampir dua dekade silam masih jadi kenangan bagi warga Wukirsari. Namun tak ada lagi kepiluan, yang ada hanyalah rasa syukur.
Pemandangan kala rumah-rumah hancur, kini berganti dengan kunjungan tamu wisatawan yang datang nyaris setiap hari.
Sejak 2021 lalu, Paguyuban yang dibentuk pasca-gempa, kini sudah menjadi koperasi dan menaungi 12 kelompok pembatik.
Setiap kelompok punya anggota sendiri, dan semuanya tergabung dalam wadah besar agar tidak terjadi persaingan tidak sehat antar-pembatik.
Melalui wadah koperasi ini, seluruh kegiatan wisata, -mulai dari jadwal kunjungan, pelatihan membatik, hingga pemasaran produk, - dikelola secara teratur dan terencana.
Kunjungan wisata yang terus meningkat ini turut dirasakan dampaknya oleh warga, Giyanti (49) dan Istijanah (56) adalah dua diantaranya.
Sejak 1980an, Giyanti dan Istijanah sudah memegang canting. Mereka belajar membatik dari ibunya saat masih anak-anak.
Dulu, mereka hanyalah buruh batik yang bekerja dari pagi hingga malam dengan upah tak seberapa.
Kini, seiring berkembangnya Kampung Batik, mereka juga menjadi edukator budaya, atau dalam bahasa keren mereka, menjadi pemandu wisata.
Paling tidak, setiap lima wisatawan yang datang belajar membatik akan didampingi satu perajin.
"Sekarang alhamdulillah, sudah enggak jadi buruh lagi. Kadang kami juga mendampingi turis, bahkan mereka juga yang beli langsung dari sini," tutur Istijanah (56).
Dari kegiatan satu sesi mendampingi wisatawan, mereka bisa mendapatkan tambahan penghasilan Rp35.000–Rp40.000.
"Satu hari bisa ada satu sesi pendampingan, kadang dua. Atau kalau pas ramai tiga sesi. Tinggal dikalikan saja per sesinya tadi," kata dia.
Para pemandu wisata ini digilir. Soal jadwal siapa yang bertugas diatur oleh pengurus paguyuban batik yang sudah berbentuk koperasi tadi.
"Sambil menunggu batik kering jemur, kami bisa ikut memandu wisata. Setelah itu lanjut membatik di rumah," sambungnya.
Bagi Istijanah dan Giyanti, setiap kunjungan wisatawan bukan sekadar kesempatan ekonomi.
Lebih dari itu, mereka merasa menjadi bagian dari misi yang lebih besar: menjaga nyala warisan batik tulis agar tak padam.
"Kami bantu jelaskan sejarah batik, proses membuatnya, dan maknanya. Jadi bukan hanya mengajar, tapi juga mengenalkan budaya," ujar Giyanti.
"Senang rasanya melihat orang asing belajar dengan antusias," kata Giyanti, tersenyum.
"Mereka mungkin datang untuk wisata, tapi pulangnya membawa cerita tentang Batik dan budaya di sini," imbuhnya.
Bukan hanya para perajin batik saja yang kena dampak positifnya, yang ahli di bidang lain pun juga merasakan.
"Yang bisa masak kita sertakan untuk bekerja di bagian dapur untuk menyiapkan makanan."
"Yang senang bersih-bersih rumah, mereka fokus ke tempat penginapan. Yang senang berjualan, mereka menjual souvenir," kata Nur Ahmadi.
Terdapat 12 homestay di Wukirsari yang bisa dijadikan tempat menginap bagi wisatawan.
Bahtiar, bocah enam tahun yang dulu ketakutan saat gempa, juga termasuk yang merasakan dampak berkembangnya Wukirsari.
Ibunya juga seorang pembatik. Dari lembaran-lembaran kain batik yang dijual ibunyalah ia bisa bersekolah tinggi sampai ke jenjang pendidikan sarjana di sebuah Universitas Negeri kenamaan di Yogyakarta.
"Ibu saya perajin, kalau bapak petani, kadang juga jadi buruh bangunan."
"Tapi justru lebih menopang rumah tangga itu dari batik yang dibuat ibu, sekarang malah jadi pengusaha batik," sambung Bahtiar.
Kisah Giyanti, Istijanah dan Bahtiar menjadi cermin Wukirsari: sama-sama berangkat dari puing, sama-sama bangkit, dan kini sama-sama berada di tahap yang jauh lebih kuat.
Jadi Desa Wisata Terbaik di Dunia
Selain batik, di Desa Wisata Wukirsari juga terdepat potensi ekonomi kreatif lainnya yang tumbuh subur dan terus dijaga oleh warganya.
Di Dusun Pucung, para perajin masih setia melestarikan seni tatah sungging, kerajinan pembuatan wayang kulit yang diwariskan turun-temurun.
Dari sudut lain, warga mengolah teh gurah yang dipercaya jadi obat untuk masalah pernapasan, serta menyajikan minuman tradisional seperti wedang uwuh yang menghangatkan tubuh.
Di perbukitan desa, kompleks makam raja-raja Mataram menambah dimensi spiritual bagi pengunjung, sekaligus memperkaya pengalaman wisata yang ditawarkan Wukirsari.
Seluruh potensi tersebut bergerak ke satu arah: membangun desa wisata yang hidup dari kekuatan komunitas.
Pengelolaannya dilakukan bersama-sama (community-based tourism), di mana masyarakat menjadi aktor utama setiap proses pengembangan.
Dari sekitar 18.300 penduduk, hampir separuhnya menggantungkan hidup pada sektor UMKM dan pariwisata.
Banyak dari usaha-usaha ini tumbuh secara turun-temurun, memperlihatkan bagaimana tradisi dapat berjalan seiring dengan peningkatan taraf hidup.
Kerja keras kolektif inilah yang kemudian membawa Wukirsari meraih predikat juara 1 Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 dalam kategori Desa Wisata Maju.
Momentum itu disusul prestasi lebih besar setahun berikutnya, ketika Wukirsari dinobatkan sebagai The Best Tourism Village 2024 oleh UNWTO—pengakuan global yang menegaskan posisinya sebagai salah satu desa wisata terbaik dunia.
Penghargaan tersebut juga mempertegas bahwa Wukirsari berkembang pesat melalui kekuatan budaya dan partisipasi masyarakatnya.
Statusnya sebagai Desa Sejahtera Astra (DSA) semakin memperkuat fondasi pembangunan, berkat dukungan berkelanjutan dari PT Astra International Tbk.
Head of Brand Communication Astra, Yudha Prasetya, menyampaikan bahwa capaian Wukirsari mencerminkan kekompakan warganya dalam merawat alam, menjaga budaya, dan tetap siap berinovasi.
Melalui program DSA, Astra tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga memperkuat keterampilan masyarakat, mulai dari pelatihan perajin hingga pendampingan UMKM dalam memanfaatkan pemasaran digital.
"Kami di Astra bangga dapat ikut berkontribusi dalam berkembangnya Desa Wukirsari. Kami berupaya mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan dan berbasis pada potensi masyarakat," tutupnya.
Meski demikian, menurut Nur Ahmadi, keberhasilan meraih berbagai penghargaan bukanlah tujuan utama mereka.
"Penghargaan itu hanya tambahan. Bagi kami, kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika warga benar-benar merasakan manfaat dari adanya kegiatan wisata," ujarnya.
Tantangan Regenerasi Pembatik
Kini, geliat Kampung Batik Giriloyo memang terasa hidup. Wisatawan datang silih berganti, para pembatik bekerja sambil berbagi pengetahuan, dan ekonomi warga semakin menguat.
Namun di balik semarak itu, terselip kekhawatiran yang sering diungkap para perajin: siapa yang akan meneruskan tradisi ini di masa depan?
Jumlah pembatik di Wukirsari saat ini jauh berkurang, menyisakan 640 pembatik, tinggal separuh dibanding 20 tahun lalu.
Hampir seluruh pembatik di Giriloyo saat ini adalah perempuan, dengan rata-rata usia di atas 30 tahun.
Mereka tumbuh bersama batik sejak kecil, menjadikannya napas hidup dan sumber penghidupan. Tapi seiring perubahan zaman dan membaiknya taraf pendidikan, anak-anak mereka mulai melangkah ke jalur berbeda.
"Kami itu di sini juga khawatir. Pembatik di sini kan sudah tua-tua. Sedangkan yang muda-muda ini lebih milih kerja di pabrik, di kantor di kota sana," kata Istijanah.
Pergeseran ini menjadi tantangan baru. Di satu sisi, kemajuan pendidikan adalah buah dari kesejahteraan yang tumbuh.
Tapi di sisi lain juga bisa membawa konsekuensi: berkurangnya generasi penerus pembatik tulis.
Asti Suryo Astuti, ahli batik yang juga merupakan kurator di Museum Batik Danar Hadi mengatakan, upaya melestarikan batik tidak bisa dibebankan pada satu kelompok saja.
Putri dari Ir. Toetti T. Soerjanto ,-tokoh yang dikenal atas kontribusinya dalam dokumentasi dan literatur mengenai batik Indonesia - ini, mengapresiasi apa yang dilakukan Astra lewat program DSA-nya.
"Semua pihak, dari warga, pemerintah, dunia usaha, hingga generasi muda memiliki peran yang saling melengkapi agar tradisi ini tetap hidup dan relevan," kata dia.
"Status Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia memberi tanggung jawab moral kepada Indonesia untuk menjaga keberlanjutan tradisi batik—mulai dari teknik pembuatannya, filosofi motif, hingga keberlangsungan para perajin," jelasnya.
(Tribunnews.com/Tio)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kampung-Batik-Giriloyo-dari-atas-2.jpg)