Kamis, 9 April 2026

Kisah Wukirsari: Dari Reruntuhan ke Panggung Dunia, Bangkit Lewat Warisan Terbaik

Desa Wukirsari di Imogiri, Bantul bangkit pasca gempa 2006. Kampung Batik Giriloyo membawanya meraih penghargaan Desa Wisata Terbaik Dunia pada 2024.

|
kemenpar.go.id
KAMPUNG BATIK GIRILOYO - Kampung Batik Giriloyo yang menjadi bagian dari Desa Wisata Wukirsari berada di ketinggian dengan kontur perbukitan sedang, memberikan panorama alam yang memesona. Desa Wisata Wukirsari dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik di Dunia pada 2024 oleh UNWTO, Organisasi Pariwisata Dunia. 

TRIBUNNEWS.COM - Pagi itu, Sabtu 27 Mei 2006. Suara gemuruh memecah keheningan di Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Tanah bergetar, dinding-dinding rumah runtuh, dan debu membumbung tinggi bak menutup langit.

Di antara jerit panik dan tangisan, Bahtiar yang berusia enam tahun hanya bisa memeluk erat ibunya.

Ia menangis tanpa suara, tubuhnya gemetar. Sementara sang ibu berusaha mencari tempat aman di antara puing-puing.

"Gemuruhnya saat itu luar biasa menakutkan. Waktu itu saya cuma mau digendong, gak mau turun ke tanah," kenang Bahtiar ketika bercerita kepada Tribunnews, Senin 20 Oktober 2025.

Gempa pukul 05:55 WIB pagi itu mengguncang Bantul dengan hebat selama 57 detik, menimbulkan getaran yang terasa sampai Surabaya, sekira 330 km dari pusat gempa. 

Dalam waktu kurang dari satu menit, rumah-rumah, sekolah, tempat ibadah, pertokoan, pasar dan banyak bangunan lainnya rata dengan tanah. 

Sebanyak 6.652 orang meninggal dunia. Banyaknya korban jiwa menjadikan gempa berkuatan 5,9 SR ini salah satu yang paling mematikan di abad 21, menurut BMKG.

Data BNPB mencatat, jumlah rumah yang mengalami kerusakan total mencapai 71.763, rusak berat 71.372, dan 66.359 rumah rusak ringan.

Rumah-rumah di Wukirsari termasuk yang luluh lantak akibat gempa. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal.

"Hampir 80 persen rumah di sini roboh. Yang berdiri hanya rumah yang masih menggunakan anyaman bambu, itu pun doyong juga dan harus dikasih penopang," kata Bahtiar yang kini berusia 26 tahun.

Wukirsari berjarak 13 km dari Sungai Opak di Dusun Potrobayan, Pundong, Bantul, -  tempat yang menjadi pusat episentrum terjadinya gempa. 

Jika dari jarak ratusan kilometer—bahkan hingga Surabaya yang lebih dari 300 km jauhnya—orang masih bisa merasakan getarannya, bisa dibayangkan betapa dahsyat hantaman yang diterima rumah-rumah di Wukirsari.

Berbulan-bulan warga hidup di bawah tenda terpal. Mereka menggantungkan harapan pada bantuan yang datang, menahan trauma dan ketidakpastian. 

"Kami hidup di bawah tenda terpal itu hampir 11 bulan lamanya," ujar Bahtiar.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved