Banjir Bandang di Sumatera
Rosmawati Terngiang Ucapan Keluarganya yang Terjebak Banjir Tapteng: Kami Belum Makan, Berdoalah
Perempuan 30 tahun itu sedang menanti kabar dari keluarganya di Tapanuli Tengah, yang terjebak banjir bandang dan longsor.
Ringkasan Berita:
- Rosmawati Zebua (30) di Jakarta menanti kabar keluarganya yang terjebak banjir bandang dan longsor di Tapanuli Tengah.
- Video call terakhir dengan keluarganya terputus karena hujan dan sinyal buruk; kata-kata terakhir keluarga: “Kami belum makan, berdoalah buat kami.”
- Sebelum bencana, keluarga sudah mengungsi ke gereja, namun bangunan itu rata dengan air sehingga mereka lari ke hutan tanpa membawa apa-apa.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Suara Rosmawati Zebua pecah di ujung telepon. Berat, bergetar, sesekali tertahan oleh tangis.
Perempuan 30 tahun itu sedang menanti kabar dari keluarganya di Tapanuli Tengah, yang terjebak banjir bandang dan longsor.
Dari Jakarta, ia hanya bisa berdoa, menunggu, dan sesekali memutar ulang video call terakhir yang kini terasa seperti pesan perpisahan.
Rosma adalah keluarga dari tujuh orang yang muncul dalam video viral: wajah-wajah panik di tengah hutan Aek Saeli, Desa Hutanabolon.
“Itu mamak saya, adik, abang, ipar, dan dua anak kecil,” katanya. Video itu terakhir dikirim pukul 10.30 WIB, sehari sebelumnya. Suara mereka samar, terputus oleh hujan dan sinyal yang hilang.
“Kami belum makan, kalian berdoa saja buat kami,” begitu kata-kata yang masih terngiang di telinganya.
Sebelum bencana, keluarganya sudah mengungsi ke gereja, mengikuti arahan BPBD. Tapi air bah datang lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.
Gereja pun rata dengan air. Satu-satunya pilihan adalah lari ke hutan, tanpa membawa apa-apa selain tubuh. “Mereka pikir hujan kali ini sama seperti sebelumnya. Ternyata tidak,” ujar Rosma.
Kini, ia hanya bisa menunggu kabar. Basarnas belum bisa menembus lokasi karena akses jalan terputus. Rosma sudah berulang kali menghubungi, berharap ada tim yang segera mengevakuasi.
Dalam video yang dikirim adiknya, terlihat sekitar 50 orang lain bersama keluarganya, kelaparan dan kedinginan. “Dengar kabar saja saya sudah cukup senang,” katanya lirih.
Di media sosial, suara-suara itu menggema: seorang lelaki memohon kepada bupati, seorang perempuan tua berulang kali berteriak minta tolong. “Kiri kanan sudah longsor, tidak ada jalan keluar,” kata mereka.
Banjir Bandang di Humbahas
Banjir bandang yang merenggut korban jiwa juga terjadi di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatra Utara (Sumut).
Banjir bandang menerjang Desa Panggugunan, Kecamatan Pakkat, Humbahas, pada Rabu (26/11/2025) sekitar pukul 13.00 WIB.
Ini menjadi bencana kedua di Humbahas pada dua hari terakhir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/banjir-dan-longsor-tapanuli-tengah.jpg)