Banjir Bandang di Sumatera
Beda Pendapat Anak Menteri Purbaya dan ESDM-BMKG soal Penyebab Banjir dan Longsor di Sumatra
Banjir Sumatra tewaskan 303 orang, Anak Menteri dan ESDM beda pendapat soal penyebab utama.
Ringkasan Berita:
- Korban besar akibat banjir di Sumatra 303 tewas, 279 hilang, lebih dari 50 ribu jiwa mengungsi.
- Anak Menteri Purbaya menyebut banjir bukan bencana alam, tapi ulah manusia merusak hutan.
- Kementerian ESDM menegaskan curah hujan ekstrem, geologi curam, dan litologi rapuh jadi faktor utama.
- BMKG mengkonfirmasi siklon tropis langka 95B memicu hujan ekstrem di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
TRIBUNNEWS.COM - Banjir dan longsor yang melanda Sumatra akhir November 2025 memunculkan perbedaan pandangan tajam.
Anak Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, Yudo Sadewa menilai tragedi ini bukan sekadar bencana alam, melainkan akibat ulah manusia yang merusak ekosistem.
Sementara Kementerian ESDM menegaskan faktor utama adalah curah hujan ekstrem dan kondisi geologi yang rentan.
Banjir dan longsor melanda Sumatra pada akhir November 2025, tepatnya mulai Rabu 26 November hingga Sabtu 29 November 2025.
Dampaknya sangat besar, di mana lebih dari 303 orang meninggal dunia, 279 hilang, dan lebih dari 50.000 jiwa mengungsi.
Infrastruktur rusak parah, termasuk jembatan, rumah, jalan, serta jaringan listrik dan komunikasi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Banjir ini disebut sebagai salah satu tragedi hidrometeorologi terbesar di Sumatra dalam beberapa tahun terakhir.
Faktor manusia (deforestasi, tata ruang lemah) disebut memperburuk dampak, sehingga bukan sekadar bencana alam.
Anak Purbaya Sebut Banjir dan Longsor di Sumatra Ulah Manusia
Yudo Sadewa, ikut bersuara terkait banjir besar dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Menurutnya, bencana tersebut bukan murni fenomena alam.
Namun, juga dipicu dari kerusakan lingkungan yang sudah lama terjadi.
Yudo menyebut apa yang terjadi di Sumatera ini dipicu oleh badai tropis, bukan bencana alam yang tak bisa dihindari.
Akan tetapi, dampaknya menjadi sangat besar lantaran hutan di kawasan itu yang berfungsi sebagai penyangga, kian berkurang drastis.
"Bencana yang terjadi di Sumatera itu bukan merupakan bencana alam, itu hanya lah badai tropis dia nerjang Sumatera, tapi karena enggak ada hutan, enggak ada penahan akhirnya terjadi tanah longsor dan banjir bandang," katanya seperti dikutip dari TikTok-nya pada Sabtu (29/11/2025).
Ia menyoroti perubahan fungsi hutan yang masif dalam beberapa dekade terakhir, mulai dari pembukaan lahan untuk tambang, permukiman, pertanian sampai ekspansi perkebunan sawit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pencarian-Korban-Banjir-dan-Longsor-di-Sumatra_20251130_073822.jpg)