Banjir Bandang di Sumatera
Cerita Korban Bencana di Sumatera, Selamatkan Suaminya yang Lumpuh saat Banjir Datang
Inilah cerita Misriani Lubis, seorang penyintas banjir bandang di Sumatera Utara yang berlindung di penampungan air bersama anak dan suaminya
Ringkasan Berita:
- Seorang penyintas bencana di Sumut menceritakan detik-detik mencekam saat banjir bandang terjadi
- Ia dan anaknya harus berjibaku menyelamatkan diri sambil menggotong suaminya yang kondisinya sudah lumpuh
- Selama 10 hari mengungsi, para warga di desanya hanya meminum air hujan yang direbus
TRIBUNNEWS.COM - Penyintas bencana banjir bandang di Kelurahan Lopian, Kecamatan Badirik, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut) menceritakan detik-detik menegangkan ia menyelamatkan suaminya yang lumpuh saat bencana terjadi beberapa waktu lalu.
Wanita bernama Misriani Lubis tersebut tinggal bersama anak laki-laki dan suaminya yang lumpuh di rumah yang hanya terbuat dari papan kayu.
Saat bencana terjadi pada Selasa (25/11/2025) lalu, ia dan keluarganya sedang berkumpul di dalam rumah untuk menikmati sarapan.
Namun, tiba-tiba air yang membawa kayu gelondongan tiba-tiba menerjang kampungnya.
Ia dan anaknya pun berusaha menyelamatkan diri sambil mendorong kursi roda yang diduduki suaminya.
Dalam kondisi air sudah sepinggang orang dewasa, ia beserta anaknya menyelamatkan sang suami dengan naik ke penampungan air setinggi tiga meter di belakang rumahnya.
Anaknya awalnya naik terlebih dahulu ke bak penampungan yang terbuat dari beton.
Lalu Misriani dari bawah mengangkat sang suami dan menyerahkan kepada anaknya yang telah menunggu dari atas.
"Kami menyelamatkan diri ke bagian bak mandi di belakang ya bersama anak, suami saya yang lumpuh," kata Misriani saat ditemui Tribun-Medan.com, di rumahnya.
Setelah berhasil berlindung di tempat tinggi, ia melihat keadaan sekitar yang telah dipenuhi air bermuatan kayu gelondongan.
Ia mengaku sudah pasrah dengan kondisi tersebut.
Baca juga: Sebut Banjir Bandang di Sumatra Keadaan Alam, Prabowo Janji Hapus Utang KUR Petani Aceh
Selama enam jam mereka berlindung di penampungan air, hingga akhirnya ada warga yang menolong mereka ke area yang lebih tinggi.
"Bukan air mengalir lagi, air datang beserta batang kayu yang kecil maupun besar-besar, ditambah lumpur,"
"Yang evakuasi kami warga juga dari kampung sebelah," lanjut Misriani.
Selama 10 hari, tak ada air bersih yang bisa digunakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kerusakan-di-Tapanuli-Tengah-Akibat-Banjir-dan-Longsor_20251205_053012.jpg)