Banjir Bandang di Sumatera
Fitri Temukan Orangtua, Elisabet Masih Cari Ayah dan Abang di Reruntuhan Longsor Tapteng
Dua perempuan di Desa Bair menelusuri reruntuhan untuk menemukan keluarga mereka di tengah evakuasi yang lamban dan harapan yang kian menipis
Ringkasan Berita:
- Longsor di Desa Bair, Tapian Nauli, meratakan belasan rumah dan membuat warga mencari keluarga mereka di tengah minimnya bantuan.
- Fitri akhirnya menemukan kedua orangtuanya dalam kondisi meninggal, sementara Elisabet masih menanti ayah dan abangnya yang tertimbun.
- Hingga hampir dua pekan, evakuasi berjalan lambat dan warga terus berharap semua korban segera ditemukan.
TRIBUNNEWS.COM, TAPANULI – Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah—desa wisata yang dulu penuh kehidupan—kini berubah menjadi tanah tanah merah dan kayu-kayu gelondongan.
Belasan rumah hilang seperti ditelan bumi, menyisakan hamparan.
Di tempat yang porak-poranda itu, dua perempuan, Fitriyawanti Silalahi dan Elisabet Hutabarat, hadir dengan harapan yang sama: menemukan orang-orang yang mereka cintai.
Pada Senin (8/12/2025) sore, seorang perempuan berkaos pink berjalan pelan menuju titik pencarian.
Fitriyawanti Silalahi (34) berusaha menenangkan ibu-ibu lain yang sama-sama menunggu kabar keluarga padahal hatinya sendiri digerogoti kecemasan yang tak henti.
Sudah tiga hari ia naik turun bukit, menyusuri lokasi longsor.
Baca juga: Epidemiolog Ingatkan Standar Ketat Evakuasi Jenazah Korban Banjir dan Longsor di Sumatera
Pada hari kedua, firasatnya mendadak kuat: kedua orang tuanya, Normi Hutagalung (56) dan Marningot Silalahi (57), akan ditemukan hari itu.
“Aku udah ada feeling… mamak sama bapak pasti ketemu,” tutur Fitri.
Tak lama kemudian, jasad ibunya ditemukan.
Tubuh sang ibu tertelungkup, dibalut sarung.
Fitri percaya, ibunya mungkin memeluk sarung itu untuk menghangatkan tubuh di detik-detik terakhir hidupnya.
Lima belas menit berselang, kaki yang tampak di balik reruntuhan menyingkap kebenaran lain—itu adalah ayahnya.
“Mungkin mereka sempat berpelukan. Tapi karena goncangan, pelukannya lepas… tubuhnya berdempetan,” ucap Fitri lirih.
Fitri berlari dari gereja—lokasi pengungsian—menaiki tanjakan panjang setelah namanya dipanggil.
Hanya dengan melihat punggung sang ibu, Fitri langsung tahu: itu mamaknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/jenazahkorban222222.jpg)