Banjir Bandang di Sumatera
Epidemiolog Ingatkan Standar Ketat Evakuasi Jenazah Korban Banjir dan Longsor di Sumatera
Epidemiolog Dicky Budiman mengatakan evakuasi jenazah korban banjir merupakan salah satu tugas berbahaya.
Ringkasan Berita:
- Evakuasi jenazah dari kendaraan atau lokasi terendam banjir merupakan salah satu tugas paling berbahaya bagi petugas dan relawan.
- Epidemiolog Dicky Budiman menegaskan bahwa proses ini bukan pekerjaan biasa, melainkan operasi berisiko tinggi secara biologis, kimia, dan mekanik.
- Risiko besar: Potensi ancaman lebih besar dibanding evakuasi normal. Risiko infeksi serius jika standar keselamatan diabaikan.
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah bencana banjir yang melanda berbagai daerah, proses evakuasi jenazah dari dalam kendaraan maupun lokasi terendam menjadi salah satu tugas paling berbahaya bagi petugas dan relawan.
Epidemiolog, dan peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global Dicky Budiman mengingatkan bahwa proses ini bukan pekerjaan biasa.
Melainkan operasi yang membawa risiko biologis, kimia, dan mekanik tinggi jika tidak dilakukan dengan standar keselamatan yang benar.
Epidemiolog adalah ahli yang mempelajari penyebaran, pola, dan faktor penyebab penyakit atau masalah kesehatan dalam suatu populasi.
Menurut Dicky, banyak petugas di lapangan belum memahami bahwa evakuasi jenazah pada kondisi banjir memiliki potensi ancaman yang jauh lebih besar dibanding situasi normal.
“Evakuasi jenazah dari dalam kendaraan pas kebanjiran ini bukan pekerjaan biasa, ini termasuk operasi berisiko biologis, kimia, dan mekanik tinggi. Jadi hal wajib dilakukan dengan standar keselamatan ketat,” ujarnya pada Tribunnews, Senin (8/12/2025).
APD Wajib, Membuka Pintu Mobil Tidak Boleh Sembarangan
Ia menegaskan bahwa seluruh petugas harus menggunakan alat pelindung diri lengkap, mulai dari sarung tangan tebal (lebih baik dobel), masker medis atau respirator, sepatu boots tahan air, pelindung mata, hingga baju lengan panjang atau coverall.
Mengabaikan alat pelindung diri (APD), menurutnya, dapat mengakibatkan risiko infeksi serius.
Selain itu, proses membuka mobil yang terendam banjir juga harus dilakukan sangat hati-hati.
Dicky menegaskan bahwa mobil yang terendam dapat menahan gas berbahaya hasil pembusukan, seperti H₂S, amonia, dan metana, yang dapat menyebabkan pingsan atau keracunan akut.
“Prosedur aman itu dibukanya perlahan dari arah samping. Petugas tidak boleh tepat di depan pintu dan pastikan sirkulasi udara berjalan dulu,” ujar Dicky.
Jika prosedur ini diabaikan, petugas bisa mengalami gangguan pernapasan, pingsan mendadak, hingga cedera akibat tekanan gas atau kondisi mekanis dari pintu kendaraan.
Risiko Penyakit Menular
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Empat-Kabupaten-di-Sumatera-Utara-Dilanda-Bencana-Banjir-dan-Lon_20251126_104048.jpg)