Banjir Bandang di Sumatera
Pengalaman Kapolda Aceh dan Vilmei Tembus Aceh Tamiang: Seperti Tsunami, Bau Anyir
Kapolda Aceh hingga konten kreator Vilmei bagikan pengalaman saat tiba di Aceh Tamiang, daerah yang terdampak parah dari bencana di Aceh
Ringkasan Berita:
- Kapolda Aceh ceritakan pengalaman paling berat sepanjang tugasnya ketika menerobos Aceh Tamiang.
- Saat itu Aceh Tamiang seperi mengalami tsunami kedua, daerah itu lumpuh akibat bencana Siklon Senyar yang memicu banjir bandang dan longsor di hampir seluruh Aceh.
- Relawan kemanusiaan sekaligus konten kreator, Vilmei menyampaikan hal serupa. Warga di Aceh Tamiang masih kekurangan makanan, air bersih, akses komunikasi dan bau anyir dimana-mana.
TRIBUNNEWS.COM, ACEH - Aceh Tamiang merupakan satu daerah yang disebut warga paling parah terdampak bencana di Aceh.
Daerah ini lumpuh akibat bencana Siklon Senyar yang memicu banjir bandang dan longsor di hampir seluruh Aceh.
Level Kapolda Aceh, Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah hingga Relawan kemanusiaan sekaligus konten kreator, Vilmei menceritakan pengalaman mereka saat tiba di Aceh.
Kapolda Aceh Sedih saat Tiba di Aceh Tamiang
Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah menceritakan pengalaman paling berat sepanjang tugasnya ketika menerobos wilayah Aceh Tamiang pada 1 Desember 2025, setelah daerah itu lumpuh akibat bencana Siklon Senyar yang memicu banjir bandang dan longsor di hampir seluruh Aceh.
Dalam wawancara eksklusif Saksi Kata bersama Serambi Indonesia, Kapolda Aceh mengungkap bahwa saat memasuki Tamiang, ia menemukan keadaan yang nyaris seperti “tsunami kedua”.
Baca juga: Kisah Atlet Terjebak Banjir di Aceh, Naik Boat Seberangi Lautan, Tidak Mandi 3 Hari, Sewa Becak
Pemerintahan lumpuh, jaringan komunikasi mati total, dan masyarakat terisolasi hingga tujuh hari tanpa makanan.
“Sedih saya waktu itu. Tidak ada kekuatan yang bisa saya gerakkan karena anggota saya sendiri tidak ada. Semua terpecah, rumah tenggelam, kantor tenggelam,” ujarnya dikutip Rabu (10/12/2025).
Kapolda Aceh Stres
Kapolda bercerita, awal bencana terjadi saat ia sedang rapat di Jakarta bersama para kapolres.
Dalam perjalanan pulang mengikuti Menko Polhukam, ia melihat Aceh gelap gulita dari udara.
“Kapan hujannya? Sejak Senin, Pak. Itu laporan pertama saya dapat. Rabu malam air mulai naik di banyak daerah,” katanya.
Internet terputus, laporan dari 18 kabupaten/kota tersendat.
Hingga Kamis malam, empat daerah sama sekali tidak memberikan kabar: Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kolase-kapolda-aceh-dan-vilmei-soal-aceh-tamiang.jpg)