Longsor di Bandung Barat
Jerit Subuh Longsor Bandung Barat: Adi Menanti 11 Keluarga, Tanu 7 Saudara
Jerit warga di jam 3 pagi menandai petaka longsor Bandung Barat. Adi dan Tanu menanti keluarga tertimbun, harapan berpacu dengan waktu.
Ringkasan Berita:
- Longsor pukul 03.00 WIB hancurkan rumah, puluhan warga tertimbun
- Adi menunggu 11 keluarga, Tanu kehilangan tujuh saudara kandung
- Operasi SAR berlanjut di tengah risiko longsor susulan
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG — Jerit panik memecah sunyi pukul 03.00 WIB saat longsor menerjang Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu dini hari (24/1/2026). Di balik puing yang rata dengan tanah, Adi (34) kini menanti 11 anggota keluarganya, sementara Tanu (48) kehilangan jejak tujuh saudara dalam bencana yang datang saat warga terlelap.
Adi berdiri terpaku di hamparan tanah kosong di Kampung Kuda, RT 1/10, Desa Pasirhalang, Minggu (25/1/2026).
Rumah keluarganya telah lenyap, tertimbun material longsor yang datang dini hari.
Sebelas anggota keluarganya masih dalam pencarian.
Puing bangunan yang dulu menjadi tempat mereka berteduh bahkan tak lagi terlihat.
Meski berusaha tegar, tubuh Adi tampak lemas. Ia menunggu keajaiban dari tim SAR gabungan yang terus menyisir lokasi.
“Total ada 11 saudara yang masih dicari. Kalau istri selamat karena saat kejadian lagi sama saya di rumah atas,” ujar Adi.
Ia menyebut seluruh korban tinggal satu atap. Saat longsor terjadi sekitar pukul 03.00 WIB, besar kemungkinan mereka sedang tertidur.
“Yang belum ketemu paman dua sama anak-anaknya, nenek, dan keluarga istri. Ibu istri saya sudah ditemukan dan diidentifikasi,” katanya.
Adi masih mengingat jelas suasana mencekam dini hari itu. Di tengah hujan deras, jeritan warga terdengar bersahutan.
“Warga teriak-teriak jam tiga subuh. Awalnya saya kira gempa Sesar Lembang. Pagi hari baru sadar, rumah-rumah sudah rata,” ucapnya.
Jerit Dini Hari, Keluarga Tak Pernah Kembali
Duka serupa dirasakan Tanu (48), warga Kampung Babakan, Desa Pasirlangu.
Hingga hari kedua pascabencana, ia masih menanti tujuh anggota keluarganya yang hilang.
Jeritan minta tolong dari rumah adiknya masih terngiang jelas di telinganya.
“‘Uwa tolong wa…’ suaranya sempat hilang, muncul lagi sebentar, lalu hilang selamanya,” ujar Tanu dengan mata berkaca-kaca di posko pengungsian Kantor Desa Pasirlangu.
Baca juga: Viral Pria Berseragam Polisi-TNI Tuding Es Kue Jadul dari Spons di Jakpus, Polres Klarifikasi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Puing-puing-bangunan-berserakan-setelah-diterjang-longsor-bandung-barat.jpg)