Siswa SD di NTT Meninggal
Nasib Siswa SD di NTT: Tak Terima Bantuan Pendidikan karena Kendala Administrasi Kependudukan
Tragedi YBR, bocah SD Ngada. Hidup miskin, terkendala bantuan PIP, sekolah kenang sosok ramah dan penuh keterbatasan
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - YBR (10), siswa kelas IV SD asal Desa Nenuwea, mengakhiri hidup di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026) siang.
Dia memutuskan bunuh diri diduga karena tidak diberikan uang senilai Rp 10 Ribu untuk membeli alat tulis.
Kepala UPTD SDN Rutojawa, Maria Ngene, mengatakan YBR sejak kelas I hingga kelas III SD, YBR belum pernah menerima bantuan pendidikan seperti Program Indonesia Pintar (PIP).
Kendala utamanya adalah persoalan administrasi kependudukan.
“Dari kelas satu sampai kelas tiga dia tidak dapat bantuan apa-apa karena belum punya NIK,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihak sekolah kemudian menyarankan agar YBR dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga (KK) sang nenek, karena ibu korban masih tercatat dalam KK di Kabupaten Nagekeo.
“Baru saat kelas tiga dia masuk KK omanya, karena mamanya masih KK di Nagekeo,” tambah Maria.
Tahun ini, pihak sekolah telah mengusulkan YBR sebagai penerima PIP.
Bahkan, saldo bantuan sebesar Rp450 ribu sudah tercatat di rekening.
Namun, pencairan kembali terkendala karena identitas orang tua.
“Waktu mau cair, pihak bank tidak bisa karena mamanya ber-KTP luar daerah. Mamanya KTP Nagekeo, jadi pihak bank tidak bisa mencairkan. Saya juga kaget,” ungkapnya.
Atas peristiwa tragis ini, pihak sekolah menyatakan duka mendalam dan berkomitmen untuk meningkatkan pendekatan dan perhatian terhadap kondisi sosial para siswa ke depan.
“Ini menjadi pelajaran penting bagi kami. Ke depan akan dilakukan pendekatan yang lebih intens kepada siswa agar kejadian serupa tidak terulang,” tutup Maria.
Baca juga: Bocah SD di Ngada NTT Akhiri Hidup: Bukan Sekadar Soal Tak Mampu Beli Alat Tulis
Kepala Sekolah Kenang YBR, Bocah Ngada yang Hidup dalam Keterbatasan
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, YBR diketahui tinggal bersama neneknya dalam kondisi serba terbatas. Sepulang sekolah, bocah 10 tahun itu kerap membantu sang nenek berjualan sayur demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kepala UPTD SDN Rutojawa, Maria Ngene, mengenang YBR sebagai anak yang baik, ramah, dan tidak pernah menimbulkan masalah di lingkungan sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/tempat-bocah-di-Ngada-sekolah.jpg)