Temu Berdaya, Ruang Aman dan Gerakan Pemberdayaan Perempuan untuk Aksi Sosial Berkelanjutan
Temu Berdaya diciptakan Natasha Sharla, sebagai wadah komunitas relawan perempuan dari generasi muda untuk belajar, berbagi, dan berdampak bersama.
Pengalamannya ketika menjadi volunteer di Banda Neira saat itulah yang kemudian mendorongnya untuk menciptakan Temu Berdaya.
"Pengalaman di Banda Neira sendiri merupakan pengalaman yang bikin aku tertarik ke arah 'relawan', namun untuk Temu Berdaya ini saya menginisiasi karna ingin benar-benar menjadi wadah untuk para perempuan bisa bertumbuh," jelasnya.
Nama Temu Berdaya pun dipilih bukan tanpa makna.
Sharla percaya bahwa setiap pertemuan bukanlah sebuah kebetulan.
“Kata ‘Temu’ berarti ruang untuk saling bertemu, berbagi cerita, dan belajar. Sedangkan ‘Berdaya’ berarti setelah pulang dari ruang itu, kita membawa kekuatan baru, lebih sadar, lebih percaya diri, dan lebih berani melangkah,” ungkapnya.
Menurut Sharla, Temu Berdaya merupakan refleksi dari perjalanan dirinya dalam bertumbuh secara pribadi dan sosial. Ia ingin generasi muda, khususnya perempuan, memiliki ruang positif untuk berkegiatan.
Baca juga: Harapan Sekolah di Daerah 3T pada Program Relawan Pendidikan
“Kita sebagai generasi muda jadi lebih positif, enggak cuma spend waktu buat nongkrong, tapi juga bisa spend waktu untuk menebar kebaikan,” katanya.
Meski fokus pada pemberdayaan perempuan, Temu Berdaya juga mengangkat isu kesetaraan gender, pemberdayaan UMKM, hingga edukasi kesehatan reproduksi.
Salah satu programnya adalah Sunday Market, yang digelar dalam rangkaian acara Ruang Aman Perempuan.
Dalam kegiatan ini, pelaku UMKM, khususnya karya perempuan Indonesia, difasilitasi untuk berjualan secara gratis.
Kegiatan Ruang Aman Perempuan juga biasanya diisi dengan aktivitas seperti pilates, yoga, journaling, hingga sesi berbagi aspirasi dengan tema yang berbeda-beda.
“Misalnya tema Mother Day, pertanyaan jurnalnya tentang perjuangan ibu, bagaimana rasanya menjadi ibu, atau menjadi anak perempuan pertama,” papar Sharla.
Temu Berdaya sendiri tidak berbentuk organisasi formal.
Komunitas ini bersifat terbuka untuk umum atau semua kalangan.
“Kita bentuk komunitas terbuka untuk umum, siapa pun boleh ikut, mau ikut sekali, berhenti lama, lalu ikut lagi itu enggak masalah, enggak ada konsep anggota tetap,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Founder-Temu-Berdaya-ketika-melaksanakan-Kegiatan-Sosial.jpg)