Ketua BEM UGM Diteror
Update Teror OTK: Ketua BEM UGM Diserang Isu Awas LGBT, 30 Pengurus BEM UGM Juga Diteror
Rentetan teror masih terjadi, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto diserang isu LBGT hingga menilap uang kampus, 30an pengusus BEM UGM juga kena teror.
"Jadi ibu saya adalah perempuan sederhana dari desa, yang sekolahnya saja bahkan tidak sampai pendidikan tinggi. Dalam kondisi kerentanan itu, ada pesan yang masuk ke ibu saya.
"Kalau update terakhir ada dua kali, tengah malam. Luar biasa, terorisnya ini tahu waktu yang paling rentan bagi ibu saya untuk cukup punya rasa takut, yaitu tengah malam, ketika ibu pasti dalam suasana batin yang tidak stabil.
Isi pesan tersebut, lanjutnya, sangat menyudutkan.
“Pesannya yang pertama adalah bahwa: ‘Anakmu Tiyo Ardianto itu sebagai Ketua BEM, dia nilap uang.’ Itu yang tadi. Yang kedua adalah bahwa ada berita: ‘Orang tua Ketua BEM kecewa karena anaknya nilap uang.’ Dua pesan itu yang sampai ke ibu saya. Dan ibu saya secara verbal, tanpa saya tanya, mengatakan bahwa ibu cukup takut. Ibu takut,” lanjutnya.
Puluhan Pengurus BEM Ikut Diteror
Tak hanya keluarga, sekitar 20–30 pengurus BEM UGM juga menerima teror serupa.
“Keesokan malamnya, itu kira-kira tanggal 15, sekitar 20-30 pengurus BEM—kami masih lakukan pendataan tentang berapa banyak yang menjadi korban dari teror ini, tapi sekitar 20-30—itu menerima teror juga dari nomor tidak dikenal. Yang pesannya juga sama dengan apa yang diterima oleh ibu: bahwa Ketua BEM UGM melakukan penggelapan uang,” tambahnya.
Tak Kapok Tiyo Kritik lagi Program MBG
Dalam forum tersebut, Tiyo menegaskan kembali kritik BEM UGM terhadap program MBG.
“Ketika masalah kebangsaan kita adalah kebodohan dan akses pendidikan yang minim, justru direduksi solusinya pada MBG (Makan Bergizi Gratis) yang sebenarnya tidak bergizi dan juga tidak gratis. Dan justru malah menjadi lahan korupsi yang luar biasa basah, sehingga lebih layak kita sebut sebagai ‘maling berkedok gizi’,” kritiknya.
Ia juga menyoroti kontras anggaran.
“Seorang anak di Ngada, NTT, yang memutuskan untuk bunuh diri hanya karena gagal membeli pena dan buku seharga Rp 10.000. Luar biasa kontras dan tragis saya kira, ketika kekuasaan hari ini menggelontorkan luar biasa banyak uang untuk MBG, Rp 1,2 triliun setiap hari atau Rp 335 triliun setiap tahun, sambil merampas anggaran pendidikan Rp 223 triliun,” ujarnya.
Baca juga: Ketua BEM UGM Diteror oleh Nomor dari Inggris Raya, Pesan Teror: Agen Asing, Culik Mau?
Terkait polemik diksi “Presiden Bodoh”, ia pun angkat bicara.
“Tentu kalau kita bicara presiden, ini bukan bicara soal personal, tapi bicara infrastruktur kekuasaan. Sehingga ketika kami menyebut bahwa ‘presiden bodoh’, kita tentu tidak bicara tentang kualitas IQ seorang yang bernama Prabowo Subianto, atau fungsi kognitif seorang Prabowo Subianto yang umumnya sudah sangat tua. Tidak. Kita fokus pada ada infrastruktur kekuasaan yang inkompeten, infrastruktur kekuasaan yang tidak menghargai ilmu pengetahuan. Itu yang ingin kami sampaikan melalui diksi ‘presiden bodoh’,” jelasnya.
Tiyo juga menyinggung respons pemerintah, khususnya Menteri HAM Natalius Pigai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/teror-bem-ugm-berlanjut-kolase.jpg)