Siswa SD di NTT Meninggal
Mahfud MD Geram: Tragedi Siswa NTT Akhiri Hidup Tamparan Keras bagi Negara
Mahfud MD geram tragedi NTT, kritik bansos amburadul. Rakyat miskin jadi korban, koruptor berpesta triliunan rupiah.
Selain soal kemiskinan, Mahfud menyinggung fenomena saling sindir antarmenteri yang ramai di media sosial, khususnya terkait perdebatan data anggaran.
Menurut Mahfud, perbedaan pendapat di ruang publik adalah hal lumrah dalam demokrasi, asalkan bertujuan untuk transparansi, bukan serangan personal.
Ia mengenang pengalamannya ketika berbeda pendapat dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait isu transaksi mencurigakan Rp349 triliun.
“Presiden waktu itu bilang, ‘Ya sudah jelaskan saja ke rakyat kalau begitu faktanya’. Jadi bagus, tidak ada budaya saling menutupi,” kenang Mahfud.
Namun, ia mengingatkan peran Menko penting untuk meredam perdebatan agar tidak menimbulkan kegaduhan yang tidak produktif.
Baca juga: Usai NTT, Kasus Bocah SD Akhiri Hidup Terjadi di Demak Jateng
“Jangan Sampai Rakyat Merasa Ditipu”
Di akhir pernyataannya, Mahfud membandingkan kondisi saat ini dengan era Bung Karno.
Menurutnya, meski rakyat dulu hidup susah, mereka tetap bangga karena percaya pemimpinnya tulus memikirkan bangsa.
“Kalau sekarang, banyak rakyat merasa ditipu. Koruptor gila-gilaan, triliunan rupiah. Sementara rakyat di bawah sampai harus meregang nyawa karena kemiskinan,” pungkasnya.
Bocah di NTT: Ditemukan Tewas Tergantung di Pohon Cengkeh
Seorang siswa sekolah dasar berusia 10 tahun ditemukan tewas tergantung di dahan pohon cengkeh milik neneknya di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 11.00 WITA.
Kabid Humas Polda NTT, Kombes Henry Novika Chandra, mengatakan korban awalnya menolak berangkat sekolah karena sakit kepala. Namun, setelah diantar ke rumah neneknya untuk mengambil seragam, bocah tersebut justru menuju bale di kebun. Tak lama kemudian, ia ditemukan sudah dalam keadaan tergantung.
Polisi menemukan secarik kertas berisi pesan terakhir korban dalam bahasa daerah Ngada, yang artinya: “Selamat tinggal mama.” Jenazah kemudian dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk visum.
Hingga kini, kepolisian masih menyelidiki kasus ini dengan mengumpulkan keterangan saksi guna memastikan rangkaian peristiwa secara menyeluruh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pakar-Hukum-Tata-Negara-Mahfud-MD-soal-kasus-Bupati-Pati-Sudewo.jpg)