9 Hari Tak Kembali Usai Pamit Tagih Utang Rp 2 Juta, Jasad Umar Terbungkus Karung, Ini Sosoknya
Sebelumnya ditemukan tewas terbungkus karung, Umar Gayam sempat pamit kepada keluarga untuk menagih utang Rp 2 juta.
Keluarga korban juga membakar ban bekas di jalan depan polres sebagai bentuk protes dan desakan agar aparat segera menangkap pelaku.
Mereka menuntut agar pelaku dihukum seberat-beratnya, hingga hukuman mati.
Aksi menuntut keadilan di Polres Sorong tersebut berlangsung Rabu (18/2/2026) dini hari hingga 01.00 WIT.
Maulud meminta kepolisian memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku.
"Kami minta pelaku dihukum mati karena pembunuhan ini sudah keterlaluan dan terencana," tegasnya.
Setelah aksi, rombongan keluarga membawa pulang jasad korban lalu bersepakat memakamkan jenazah pada malam itu juga.
Sosok Korban
Korban Umar Gayam merupakan anak yatim dengan keterbatasan mental.
Ayahnya telah meninggal dunia. Sejak itu ia diasuh oleh pamannya Maulud Yapono.
"Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya bawa dari kampung, saya jaga, saya sekolahkan sampai dia kerja," ujar Maulud dengan suara bergetar kepada wartawan, Rabu (18/2/2026).
Korban dikenal sebagai pekerja keras dan menjadi tulang punggung keluarga, meski memiliki keterbatasan komunikasi.
"Dia membantu biaya sekolah adiknya. Sekarang kalau dia sudah tidak ada, siapa yang tanggung keluarga?" ucap Maulud.
Menurut Maulud, korban memiliki keterbatasan mental atau berkebutuhan khusus.
Inilah yang membuatnya sulit berkomunikasi dengan lancar.
Untuk berbicara dengan jelas, Cecep harus melakukan gerakan tertentu dan hanya orang-orang terdekat yang memahami caranya berkomunikasi.
"Kalau dia mau bicara, dia harus buka muka dan gerakkan tangan dulu baru bisa cerita. Orang yang tidak mengerti dia pasti sulit paham," tuturnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kolase-Penemuan-Jasad-di-Sorong-Papua_1.jpg)