Selasa, 2 Juni 2026

5 Populer Regional: Sosok Yemisa Zebua Berani Teriaki Prabowo - Mayat Wanita dalam Boks

Yemisa Zebua, siswi SMK di Nias, viral setelah meneriaki Presiden Prabowo, sementara Rahmadani Siagian ditemukan tewas dalam boks di Medan.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • Populer regional merupakan berita yang paling banyak dibaca selama 24 jam.
  • Dimulai dari siswi SMK bernama Yemisa Zebua (17) dari SMK Negeri 1 Boronadu, Nias, menjadi sorotan setelah berani meneriaki Presiden Prabowo Subianto saat peresmian 218 jembatan di Indonesia pada 9 Maret 2026.
  • Kemudian ada seorang wanita bernama Rahmadani Siagian (20) ditemukan tewas di dalam boks di Medan dan diduga dibunuh oleh dua remaja di sebuah penginapan.

TRIBUNNEWS.COM - Populer regional dimulai dari sosok Yemisa Zebua (17), siswi SMK yang berani teriaki Presiden Prabowo Subianto.

Momen tersebut terjadi saat Prabowo resmikan saat acara peresmian 218 jembatan di seluruh Indonesia, Senin (9/3/2026).

Yemisa Zebua merupakan siswi kelas 12 SMK Negeri 1 Boronadu, Kabupaten Nias, Sumatera Utara.

Kemudian ada kasus penemuan mayat wanita yang ditemukan dalam boks di Jalan Menteng VII, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (10/3/2026).

Sosok korban adalah bernama Rahmadani Siagian (20).

Ia diduga dibunuh oleh dua remaja di sebuah penginapan.

Berikut rangkuman berita populer regional selengkapnya selama 24 jam terakhir

1. Sosok Yemisa Zebua, Siswi SMK Berani Teriaki Presiden Prabowo Minta Diberi MBG, Pernah Viral

VIRAL SISWI SMK - Momen Presiden Prabowo Subianto dan Yemisa Zebua, siswi SMK asal Kabupaten Nias, Sumatera Utara, berbincang saat acara peresmian 218 jembatan di seluruh Indonesia, Senin (9/3/2026) kemarin.
VIRAL SISWI SMK - Momen Presiden Prabowo Subianto dan Yemisa Zebua, siswi SMK asal Kabupaten Nias, Sumatera Utara, berbincang saat acara peresmian 218 jembatan di seluruh Indonesia, Senin (9/3/2026) kemarin. (Kolase Tribunnews/Kanal YouTube KompasTV)

Berikut sosok Yemisa Zebua, siswi SMK asal Kabupaten Nias, Sumatera Utara.

Ia menjadi bahan perbincangan setelah berani teriaki Presiden Prabowo Subianto saat acara peresmian 218 jembatan di seluruh Indonesia, Senin (9/3/2026) kemarin.

Yemisa Zebua diketahui siswi kelahiran 2009.

Kini dirinya masih berusia 17 tahun dan duduk di kelas 12 SMK Negeri 1 Boronadu, Kabupaten Nias.

Yemisa Zebua sebelumnya berani meneriaki Presiden Prabowo dalam sesi dialog melalui aplikasi Zoom.

Teriakan siswi berambut panjang itu berhasil mencuri perhatian orang nomor 1 di Indonesia itu.

"Yemisa itu kamu ya (yang teriak-teriak). Berani sekali kau teriak-teriak ke presiden, ya? Hah. Tapi justru karena kau teriak-teriak, aku langsung dengar," kata Presiden Prabowo, dikutip dari kanal YouTube KompasTV, Rabu (11/3/2026).

Ketua Umum Partai Gerindra itu kemudian memuji keberanian Yemisa.

Ia menilai siswi tersebut memiliki bakat menjadi pemimpin di masa depan.

Yemisa lalu menyampaikan keluhannya.

Dirinya melaporkan bahwa sekolahnya belum tersentuh oleh Makan Bergizi Gratis (MGB).

"Pak MBG-nya masih belum sampai di sekolah kami. Orang tua kami tidak mampu untuk membiayai makan kami," kata Yemisa.

"Bupati bagaimana itu (belum dapat MBG)," kata Presiden Prabowo langsung menanggapi.

Baca selengkapnya.

2. Radiet Bantah Bunuh Mahasiswi Unram, Tim Hotman 911 Soroti Kejanggalan Penetapan Tersangka

SIDANG KASUS PEMBUNUHAN - Terdakwa Radiet Adriansyah menyeka air mata saat mendengarkan kesaksian ayah korban Ni Made Vaniradya Puspa Nitra alias Vira dalam sidang pembuktian di Pengadilan Negeri Mataram, Selasa (10/3/2026).
SIDANG KASUS PEMBUNUHAN - Terdakwa Radiet Adriansyah menyeka air mata saat mendengarkan kesaksian ayah korban Ni Made Vaniradya Puspa Nitra alias Vira dalam sidang pembuktian di Pengadilan Negeri Mataram, Selasa (10/3/2026). (Tribunlombok.com/WAWAN SUGANDIKA)

Hotman Paris Hutapea menerjunkan tim kuasa hukumnya untuk mendampingi Radiet dalam persidangan kasus kematian mahasiswi Universitas Mataram (Unram), Ni Made Vaniradya Puspa Nitra.

Radiet merupakan pacar korban yang ditemukan di lokasi pembunuhan di Pantai Nipah, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Polisi menetapkan Radiet sebagai tersangka kasus pembunuhan yang terjadi pada 26 Agustus 2025 lalu.

Tim Hotman Paris 911 menyatakan penetapan Radiet sebagai tersangka janggal karena kondisnya mengalami luka berat.

Saat dihadirkan dalam sidang lanjutan pada Selasa (10/3/2026), Radiet mengaku mendapat kabar korban tewas saat dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Mataram.

“Saya juga mengetahui di tanggal 27 itu ketika saya berada di rumah sakit Bhayangkara saya sudah mengetahui kondisi Ira itu meninggal. Saya mendengar ada yang nelepon di dekat saya,” katanya, dikutip dari TribunLombok.com.

Ia pergi berdua ke Pantai Nipah menggunakan motor bersama korban.

Radiet kemudian dihajar orang tak dikenal hingga tak sadarkan diri, sementara korban dinyatakan meninggal.

Selama proses pemeriksaan, Radiet selalu kooperatif.

“Dari pertama tanggal 27 itu saya selalu dimintai keterangan dan tetap saya jawab dan tidak pernah sekalipun saya menolak untuk dimintai keterangan dari rumah sakit hingga keluar rumah sakit saya selalu memberi keterangan,” tandasnya.

Tim Hotman 911, Putri Maya Romanti. menjelaskan Radiet merupakan korban dalam kasus ini dan tidak seharusnya dijadikan tersangka.

Baca selengkapnya.

3. Profil Ananda Emira Moeis, Wakil Ketua DPRD Kaltim yang Gugup Jawab Pertanyaan Wartawan

DITANYA WARTAWAN - (Kiri) Ananda Emira Moeis tampak gugup dan bingung ketika menjawab pertanyaan dari wartawan mengenai kasus kapal tongkang yang menabrak Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) di Kota Samarinda, Kaltim.
DITANYA WARTAWAN - (Kiri) Ananda Emira Moeis tampak gugup dan bingung ketika menjawab pertanyaan dari wartawan mengenai kasus kapal tongkang yang menabrak Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) di Kota Samarinda, Kaltim. (Tribunnews.com/Instagram @rumahpengusaha dan laman DPRD Kaltim)

Wakil Ketua II DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) Ananda Emira Moeis menjadi perbincangan setelah video wawancaranya dengan awak media viral di media sosial.

Dalam video yang direkam pada Januari 2026 itu, Ananda tampak gugup dan bingung ketika menjawab pertanyaan dari wartawan mengenai kasus kapal tongkang yang menabrak Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) di Kota Samarinda, Kaltim.

Video itu turut diunggah di akun Instagram @rumahpengusaha pada Senin (9/3/2026). Ketika berita ini ditulis, video sudah dilihat lebih dari 1,8 juta kali, disukai lebih dari 21 ribu akun, dan mendapat lebih dari 8 ribu komentar.

Ananda tampak gugup menjawab. Dia terbata-bata ketika mengungkapkan pendapatnya. Warganet kemudian mempertanyakan kemampuan Ananda berbicara di depan umum atau public speaking.

“Ya, saya selaku lembaga DPRD. Saya tidak bicara soal kegiatan alur sungai yang bisa meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah). Saya lebih bicara soal faktor keamanan. Jembatan, kan, dilalui banyak warga setiap harinya untuk urusan banyak hal, ke kantor, ke sekolah, urusan ekonomi,” kata dia dengan kalimat yang putus-putus.

“Saya minta yang memegang kewenangan itu coba kerja lebih benar lagi. Jangan sampai ke depan ada tabrakan lagi. Kalau ada apa-apa, nanti yang menderita rakyat Kaltim dan semuanya yang melewati ini.”

Dia kemudian meminta pemerintah pusat agar melakukan pengawasan. Urusan itu, kata dia, adalah tugas Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dan PT Pelindo.

Lalu, dia berharap kasus tongkang menabrak jembatan tidak terjadi lagi kemudian hari.

Adapun peristiwa tongkang menabrak Jembatan Mahulu terjadi tanggal 25 Januari 2026 sekitar pukul 05.10 Wita. Akibat peristiwa itu, jembatan mengalami kerusakan fisik.

Profil Ananda Emira Moeis

Dikutip dari laman resmi DPRD Kaltim, Ananda lahir di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1984. Dia lahir dalam keluarga politikus.

Ayahnya adalah Izedrik Emir Moeis, seorang politikus PDIP yang menjadi anggota DPR RI dari tahun 2000 hingga 2013. Emir adalah putra Inche Abdoel Moeis, seorang anggota DPR RIS dan RI dari Kaltim.

Baca selengkapnya.

4. Detik-detik Polisi Kendari Selamatkan Bayi yang Lehernya Dililit Pakai Selimut oleh Ayahnya Sendiri 

ILUSTRASI BAYI - Tim Patroli Perintis Presisi Polda Sutra berhasil menyelamatkan nyawa seorang balita berusia 1,5 tahun.
ILUSTRASI BAYI - Tim Patroli Perintis Presisi Polda Sutra berhasil menyelamatkan nyawa seorang balita berusia 1,5 tahun. (Tribun Pekanbaru)

Tim Patroli Perintis Presisi Polda Sutra berhasil menyelamatkan nyawa seorang balita berusia 1,5 tahun.

Bayi malang ini jadi korban kekerasan oleh ayah kandungnya sendiri di sebuah indekos, Kelurahan Anaiwoi, Kota Kendari, Jumat (6/3/2026) malam.

Aksi penyelamatan ini bermula saat tim patroli yang dipimpin oleh Bripka Boy Sagita menerima panggilan darurat dari seorang wanita berinisial LI (19) sekitar pukul 22.30 WITA. 

LI (19) melaporkan bahwa nyawa anaknya dalam bahaya setelah melihat unggahan video di platform Facebook milik suaminya, AS (24)

Dalam rekaman tersebut, AS diduga melakukan tindakan sadis dengan melilitkan selimut ke leher sang anak hingga korban terlihat tersiksa.

Berdasarkan keterangan korban kepada petugas, insiden ini merupakan puncak dari rentetan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 

Sebelumnya, LI mengaku sering mengalami penganiayaan dari AS, hingga akhirnya ia memutuskan melarikan diri ke rumah orang tuanya di Konawe Selatan (Konsel).

Namun, AS menyusul ke Konsel dan mengambil paksa anak mereka.

Tak disangka, keberadaan anak tersebut justru dijadikan alat intimidasi melalui penyiksaan yang direkam dan disebarkan di media sosial.

"Korban merasa sangat khawatir dengan keselamatan nyawa anaknya setelah melihat video penyiksaan tersebut, sehingga langsung meminta pendampingan kepolisian," ujar Bripka Boy Sagita. 

Baca selengkapnya.

5. Detik-detik Penemuan Mayat Wanita Tanpa Busana Dalam Boks di Medan, Selimut OYO Jadi Petunjuk

PENEMUAN MAYAT- Warga mengerumuni TKP penemuan jenazah wanita di Jalan Menteng 7, Gang Seorja 3, Kota Medan, Selasa (10/3/2026). Jenazah tahun ditemukan tanpa busana ini diletakkan di dalam kontainer yang dibuang di ladang pisang.
PENEMUAN MAYAT- Warga mengerumuni TKP penemuan jenazah wanita di Jalan Menteng 7, Gang Seorja 3, Kota Medan, Selasa (10/3/2026). Jenazah tahun ditemukan tanpa busana ini diletakkan di dalam kontainer yang dibuang di ladang pisang. (Tribunnews.com/TRIBUN MEDAN/Muhammad Nasrul/ist)

Rahmadani Siagian, wanita berusia sekitar 20 tahun ditemukan dalam kondisi memprihatinkan di Jalan Menteng VII, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (10/3/2026).

Warga Labuhanbatu Utara tersebut diduga menjadi korban pembunuhan tak lama setelah menetap di Kota Medan bekerja sebagai pejaga toko ponsel.

Jasadnya ditemukan dalam kondisi tanpa busana di dalam boks kontainer plastik.

Seolah ingin menghilangkan jejak, terduga pelaku membungkus dan mengikat tubuh korban menggunakan kain sprei hotel.

Setelah itu, jasad korban dibungkus dengan karung goni lalu dimasukkan ke dalam kontainer boks.

berdasarkan hasil pemeriksaan fisik luar, jasad korban mengalami luka lebam diduga bekas penganiayaan.

"Memang ada dugaan tindakan penganiayaan, tetapi kami tidak bisa berspekulasi. Kami berkoordinasi dengan dokter forensik untuk mendalami lebih lanjut," kata Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Bayu Putro Wijayanto, Selasa (10/3/2026).

Polisi menduga, saat dibuang pelakunya kondisi korban belum lama meninggal.

"Kondisi korban masih baru, karena belum kaku. Ini masih kita lakukan visum untuk memastikan penyebab meninggalnya korban," ujar Bayu.

Selimut Bertulis OYO Jadi Petunjuk

Kain berwarna merah bertuliskan OYO yang ditemukan dalam kontainer menjadi petunjuk bagi polisi dalam mengungkap kasus tersebut.

Kain tersebut identik dengan sebuah penginapan.

Menyikapi hal tersebut, Bayu mengatakan temuan tersebut menjadi bukti awal untuk selanjutnya dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Baca selengkapnya.

(Tribunnews.com)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved