Minggu, 12 April 2026

Program Makan Bergizi Gratis

Program MBG Dongkrak Pendapatan UMKM, Usaha Rumahan di Cilacap Kebanjiran Pesanan

Program MBG dorong UMKM naik omzet dan kurangi beban keluarga, riset UI ungkap dampak ekonomi dan sosial yang signifikan.

Penulis: Reza Deni
Editor: Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
  • Program MBG terbukti tingkatkan omzet UMKM dan pendapatan warga. 
  • Riset UI juga mencatat pengeluaran keluarga menurun, sekaligus memperkuat ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat.

TRIBUNNEWS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti membawa dampak positif bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah. Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Salah satu yang merasakan manfaatnya adalah usaha rumahan Dapur Raffa di Desa Danasri, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap. Pemiliknya, Siswanti, mengaku omzet usahanya meningkat sejak terlibat dalam program MBG.

“Berkat ada MBG, kami rasakan manfaatnya. Kami biasa memproduksi roti manis varian abin, coklat, keju, strawberry,” ujar Siswanti, Senin (30/3/2026).

Melalui program tersebut, Dapur Raffa secara rutin memasok produk ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat. Dalam sepekan, Siswanti mengirimkan roti sebanyak dua kali dengan jumlah mencapai 100 hingga 3.000 potong.

“Kami biasa memasok 2 kali seminggu dengan jumlah 100-3000 pcs untuk SPPG Danasri,” jelasnya.

Lonjakan permintaan ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan usaha. Bahkan, Siswanti harus menambah tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan produksi.

“Alhamdulillah ada peningkatan pendapatan. Dan juga menyerap tenaga tambahan,” tambahnya.

Secara nasional, Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat lebih dari 46 ribu UMKM telah diberdayakan selama satu tahun pelaksanaan program MBG. Ribuan pelaku usaha tersebut kini menjadi bagian dari rantai pasok bahan baku untuk dapur SPPG di berbagai daerah.

Program ini dinilai mampu menciptakan ekosistem pangan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat akar rumput.

“Kolaborasi ini menciptakan rantai pasok pangan yang berkelanjutan, memberdayakan usaha kecil, dan memastikan bahan makanan berkualitas sampai ke tangan penerima manfaat,” ujar perwakilan BGN.

Dengan dampak yang semakin luas, program MBG diharapkan terus menjadi motor penggerak ekonomi lokal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan UMKM di seluruh Indonesia.

Riset UI: Program MBG Dongkrak Ekonomi Keluarga dan UMKM

Penelitian akademik mengungkap bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga memberikan efek signifikan terhadap kondisi ekonomi keluarga dan pelaku usaha lokal.

Temuan tersebut dipaparkan dalam seminar oleh tim peneliti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI), yang tergabung dalam Kluster Kesejahteraan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan.

Ketua tim peneliti, Fentiny Nugroho, menjelaskan bahwa penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan fokus pada kelompok masyarakat rentan dan miskin.

“Dari hasil kajian, terlihat adanya peningkatan pendapatan keluarga, khususnya pada relawan yang terlibat dalam kegiatan SPPG,” ujarnya.

Para relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini memperoleh penghasilan harian sekitar Rp100 ribu hingga Rp125 ribu. Angka ini dinilai signifikan, terutama bagi mereka yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap.

Selain itu, para pekerja juga merasakan penghematan karena tidak lagi mengeluarkan biaya transportasi serta mendapatkan konsumsi selama bekerja, sehingga kondisi ekonomi mereka menjadi lebih stabil.

Penelitian juga menemukan adanya penurunan pengeluaran rumah tangga, terutama bagi keluarga miskin penerima manfaat MBG.

“Keluarga merasa terbantu karena tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk kebutuhan makan anak-anak di sekolah,” kata Fentiny.

Dampak positif juga dirasakan pelaku UMKM yang terlibat dalam rantai pasok program MBG. Sejumlah pelaku usaha mengalami peningkatan pendapatan antara Rp1 juta hingga Rp2 juta, tergantung peran mereka sebagai produsen atau distributor.

Meski demikian, penelitian ini juga mencatat sejumlah kendala, terutama keterbatasan modal yang membuat sebagian UMKM belum mampu memenuhi permintaan dalam skala besar.

Karena itu, tim peneliti merekomendasikan adanya dukungan lebih lanjut berupa pembinaan usaha, akses permodalan, serta pelatihan manajerial agar UMKM dapat berkembang lebih optimal.

Penelitian yang dilakukan di wilayah Tangerang Selatan, Depok, dan Jakarta Timur ini menyimpulkan bahwa program MBG memiliki dampak positif yang luas, mulai dari peningkatan pendapatan hingga pengurangan beban ekonomi keluarga.

Dalam jangka panjang, program ini juga dinilai berpotensi meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi yang lebih baik bagi anak-anak.

“Anak-anak dengan gizi yang baik akan tumbuh lebih optimal dan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga di masa depan,” ujar Fentiny.

Temuan ini dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045, sekaligus memperkuat peran program MBG sebagai instrumen pengentasan kemiskinan berbasis kesejahteraan sosial.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved