Banjir Solo Raya, Dokter Anak Soroti Perubahan Iklim dan Dampak bagi Kesehatan Publik
Banjir yang melanda sejumlah wilayah dinilai bukan sebagai kejadian tak terduga, melainkan konsekuensi dari perubahan iklim yang telah diprediksi.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Banjir yang melanda sejumlah wilayah dinilai bukan sebagai kejadian tak terduga, melainkan konsekuensi dari perubahan iklim yang telah lama diprediksi.
Hal tersebut disampaikan oleh dr. MN. Ardi Santoso, Sp.A, yang juga merupakan Pediatric Health Educator atau edukator kesehatan anak.
Ardi menegaskan perubahan iklim kini telah berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat yang nyata, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Menyoroti banjir di Kota Solo dan sekitarnya, Ardi menilai ancaman itu sudah ada sejak lama.
“Banjir di Solo bukan kejutan. Ini adalah konsekuensi yang sudah lama kita tahu, tetapi belum cukup kita siapkan,” ujarnya kepada Tribunnews, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, berbagai lembaga internasional telah memperingatkan dampak serius perubahan iklim terhadap kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan akan terjadi tambahan 250.000 kematian per tahun pada periode 2030–2050 akibat penyakit seperti diare, malnutrisi, malaria, dan stres panas.
Selain itu, laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan peningkatan intensitas hujan ekstrem yang memicu banjir lebih sering dan sulit diprediksi.
Sementara di Indonesia, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 90 persen bencana merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Baca juga: Banjir Melanda Sejumlah Titik di Indonesia, Sukoharjo hingga Lampung Tergenang Air
Pengaruhi Kesehatan Anak
Ardi menjelaskan, dampak banjir tidak hanya bersifat langsung, tetapi juga memengaruhi kesehatan anak dalam jangka pendek hingga panjang.
"Pascabanjir, terjadi peningkatan penyakit berbasis air seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, hingga penyakit vektor seperti demam berdarah," ungkapnya.
Tak hanya itu, sektor pendidikan juga terdampak. Sekolah kerap diliburkan akibat banjir, lingkungan belajar menjadi tidak aman, serta kualitas pembelajaran dan konsentrasi anak menurun.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menyebabkan gangguan tumbuh kembang, stres psikologis, hingga penurunan kualitas kesehatan generasi mendatang.
Ia juga menyoroti bahwa respons terhadap bencana selama ini masih bersifat reaktif.
Penanganan baru dilakukan setelah bencana terjadi, bukan melalui langkah pencegahan.
“Dalam konteks krisis iklim, mitigasi dan kesiapsiagaan adalah kunci utama,” tegasnya.
Perlu Penataan Kota Berbasis Lingkungan
Sebagai solusi, Ardi mendorong sejumlah langkah strategis, mulai dari penataan kota berbasis lingkungan, peningkatan sistem drainase, hingga pengendalian alih fungsi lahan.
Selain itu, diperlukan sistem peringatan dini berbasis teknologi, edukasi kebencanaan, serta integrasi kurikulum perubahan iklim dan kesehatan di sekolah.
Penguatan sistem kesehatan juga dinilai penting, termasuk melalui pemantauan penyakit berbasis iklim dan peningkatan layanan kesehatan primer.
Ia menekankan, perubahan iklim harus segera ditangani secara serius karena dampaknya tidak hanya berupa bencana, tetapi juga ancaman terhadap kesehatan dan masa depan generasi.
“Perubahan iklim itu nyata. Banjir di Solo adalah bukti, bukan sekadar peringatan lagi,” pungkasnya.
Banjir di Solo dan Sekitarnya
Diketahui, hujan lebat yang terjadi pada Selasa sore hingga Rabu dinihari membuat sejumlah wilayah di Solo Raya banjir.
Mulai dari Kota Solo, Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, dan Klaten.
Di Sukoharjo, banjir melanda wilayah Dusun Keden RT 01 RW VII, Desa Gentan, Kecamatan Baki.
Sebanyak 108 kepala keluarga (KK) terdampak.
Salah satu warga, Wawan Juniadi, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas tinggi mulai turun sekitar pukul 14.00 WIB dan terus berlanjut hingga Rabu sekitar pukul 02.00 WIB.
“Hujan mulai turun siang hari dan terus berlangsung sampai sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Air mulai naik sekitar pukul 18.00 WIB, terus meninggi hingga warga akhirnya mengungsi pada malam hari,” ujarnya, Rabu, dilansir Tribun Solo.
Genangan air mulai meningkat pada sore hari dan semakin tinggi hingga memaksa warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Menurut Wawan, ketinggian air banjir di Sukoharjo cukup signifikan. Pada puncaknya, air mencapai selutut orang dewasa, bahkan di beberapa titik mencapai 80 sentimeter hingga 1 meter.
Di dalam rumahnya, air juga masuk cukup tinggi hingga mencapai 70–80 sentimeter, menyebabkan aktivitas warga lumpuh total.
Banjir di Solo
Sementara itu di Kota Solo, banjir merendam sejumlah titik Kota Bengawan pada Selasa malam.
Banjir terjadi setelah hujan lebat mengguyur selama beberapa jam.
Dilansir Tribun Solo, Jalan Radjiman hingga kawasan permukiman di Kelurahan Tipes terdampak cukup parah, memaksa warga mengungsi dan arus lalu lintas dialihkan.
Salah satu titik terparah berada di Jalan Radjiman, tepatnya di kawasan Kabangan, Kecamatan Laweyan.
Ketinggian air di lokasi ini mencapai lutut orang dewasa, sehingga kendaraan tidak dapat melintas dengan normal.
Akibatnya, arus lalu lintas dialihkan baik dari simpang tiga Baron maupun dari arah sebaliknya untuk menghindari kemacetan dan risiko kendaraan mogok.
Banjir juga melanda Kampung Tipes RT 3 RW 15, Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan.Di kawasan yang dihuni sekitar 29 kepala keluarga (KK) ini, ketinggian air bahkan mencapai dada orang dewasa.
Luapan air terjadi akibat meluapnya Sungai Jenes, anak Sungai Bengawan Solo, yang tidak mampu menampung debit air setelah hujan deras mengguyur sejak sore hari.
Dari pantauan di lokasi, warga terlihat bergegas mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebagian lainnya berusaha menyelamatkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.
(Tribunnews.com/Gilang P) (TribunSolo.com/Andreas Chris, Anang Maruf)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.