Jumat, 24 April 2026

Cerita Karyawan Difabel Asal Magelang: Dulu Sering Ditolak Kerja Kini Hidup Lebih Layak

Shinta (34), warga Magelang Jawa Tengah, penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara ini menjadi salah satu dari 70 karyawan.

|
Penulis: willy Widianto
Editor: Wahyu Aji
HO/IST
DIFABEL - Shinta (34), warga Magelang Jawa Tengah penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara ini menjadi salah satu dari 70 karyawan difabel. 

TRIBUNNEWS.COM, MAGELANG - Matahari belum begitu meninggi ketika ribuan karyawan pabrik rokok HS memulai aktivitasnya di Muntilan, Magelang, Jumat (24/4/2026).

Tangan-tangan cekatan itu berlomba melinting dan mengepak batang-batang rokok. Suara percakapan nyaring terdengar.

Tapi di sebuah sudut, ada puluhan pekerja yang asyik bercerita namun tak bersuara. Melainkan dengan bahasa isyarat.

Shinta (34), warga Magelang Jawa Tengah, penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara ini menjadi salah satu dari 70 karyawan difabel yang bekerja sebagai pelinting dan pengepak rokok.

Shinta terlihat sumringah saat didatangi sejumlah awak media. 

Namun di balik wajah bahagianya itu, ada cerita pedih yang ia lalui sebelum bisa bekerja di pabrik.

Cerita tentang sulitnya mencari kerja dan stigma negatif masyarakat pada mereka.

"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda. Menganggap kami tidak mampu tanpa pernah diberi kesempatan," ucapnya ditulis, Jumat (24/4/2026).

Dirinya masih ingat betul ketika terjadi penolakan-penolakan itu.

Ibu anak satu ini selalu pulang dengan perasan sakit hati dan kecewa selalu menghantui dari tes wawancara.

"Tapi di pabrik rokok HS ini, saya seperti menemukan kehidupan baru. Tidak hanya diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, tapi kami juga dihormati dan dihargai tanpa dibedakan," jelasnya.

Sebelum bekerja di HS, Shinta sempat membuka usaha batik tulis kecil-kecilan di rumahnya.

Tapi usaha itu tak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, ia adalah tulang punggung keluarga dan anaknya masih kecil butuh biaya sekolah.

"Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan, saya hutang ke bank," katanya.

Namun kini kehidupannya berangsur membaik.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved