Sesepuh NU Jabar Tekankan Kemandirian Organisasi Jelang Muktamar ke-35
Mereka meminta NU mandiri dan tidak bergantung pada pihak eksternal, termasuk dalam dinamika suksesi kepemimpinan.
Ringkasan Berita:
- Menjelang Muktamar ke-35, sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Barat menyampaikan pesan agar NU tetap mandiri dan tidak bergantung pada pihak eksternal, termasuk dalam proses suksesi kepemimpinan.
- Pesan ini muncul dalam silaturahmi antara Gus Salam dan tokoh senior NU Jawa Barat, Sofyan Yahya, yang menegaskan pentingnya kemandirian organisasi.
- Menurut Sofyan, NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan harus bangkit dengan kekuatan sendiri agar lebih kokoh.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kalangan sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Barat mengirimkan pesan jelang Muktamar ke-35. Mereka meminta NU mandiri dan tidak bergantung pada pihak eksternal, termasuk dalam dinamika suksesi kepemimpinan.
Hal itu mencuat dalam silaturahmi Abdussalam Shohib atau Gus Salam dengan tokoh senior NU Jawa Barat Sofyan Yahya.
Dalam pertemuan tersebut, Sofyan Yahya yang juga Mustasyar PWNU Jawa Barat menegaskan pentingnya kemandirian organisasi.
“NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan harus bangkit dengan kemandiriannya agar kuat, dan tidak bergantung pada pihak eksternal,” ujar Arif Afifuddin menirukan pesan Ajengan Sofyan dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Gus Ayis yang turut mendampingi kunjungan menjelaskan, pesan itu bukan hal baru. Namun, kembali ditekankan karena tantangan NU ke depan dinilai semakin kompleks.
Menurutnya, karakter NU tidak bisa dilepaskan dari pesantren yang sejak awal dibangun di atas prinsip kemandirian.
“Ketua Umum PBNU harus dari kader pesantren. Dan saatnya dzurriyah muassis NU tampil menjadi pimpinan tanfidziyah PBNU,” kata dia.
Sementara itu, Gus Salam menyebut kunjungannya sebagai bagian dari ikhtiar meminta restu sekaligus mengambil teladan dari pengalaman kepemimpinan Sofyan Yahya di Jawa Barat.
Ia juga mengungkap pesan penting lain yang disampaikan terkait Muktamar mendatang.
“Ajengan Sofyan memberi penegasan bahwa NU adalah benteng akhlak dan moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, dan harus tetap dijaga dalam kondisi apa pun,” kata Gus Salam.
Tak hanya soal kemandirian, isu integritas juga menjadi sorotan. Muktamar diminta dijaga dari praktik transaksional.
“Semua dinamika Muktamar mendatang harus dilandasi akhlaq yang baik dan terhindar dari money politik,” tambahnya.
Pesan reflektif juga datang dari Mustasyar PBNU M. Nuh Addawami. Dalam pandangannya, pengurus NU harus berperan sebagai pelayan umat, bukan sekadar pemegang kekuasaan.
“Jadilah pengurus, bukan pemimpin. Karena di dalam NU yang dibutuhkan adalah pengurus yang mengurusi kebutuhan warga, melayani segala keluhan umat,” ujar Gus Salam menirukan pesan KH Nuh Addawami.
Pesan tersebut, dikatakan Gus Salam, sejalan dengan dawuh pendiri NU Hasyim Asy'ari tentang keutamaan mengabdi di NU.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/diskusi-sesepuh-nu-jabar-12.jpg)