Gejolak Rupiah
Orang Desa Tak Pakai Dollar: Harga Oli dan Onderdil di Blora Naik, Untung Pengusaha Tempe Menipis
Rupiah tembus Rp17.750 per dollar AS, bengkel hingga perajin tempe di desa mulai terpukul kenaikan harga impor.
"Jauh lebih sepi. Penurunan konsumen bisa 30 sampai 40 persen setiap harinya," jelasnya.
Ia menilai, daya beli masyarakat melemah karena harga barang yang makin mahal.
Andhika berharap, situasi ini bisa segera berakhir dan harga-harga kembali normal.
"Daya beli lagi lemah. Kita sebagai masyarakat biasa ya cuma berharap harga bisa kembali normal," jelasnya.
Pengusaha Tempe Terdampak Kenaikan Harga Kedelai Impor
Efek dari melemahnya Rupiah terhadap Dollar AS juga berdampak terhadap usaha pembuatan tempe di Desa Pliken, Kembaran, Banyumas, Jateng.
Tempe sendiri dibuat dari bahan baku kedelai yang harus impor dari Amerika.
Isti, salah satu perajin tempe pun mengatakan bahwa usahanya bergantung terhadap nilai tukar dollar AS.
"Pak Prabowo apa tahu harga kedelai mahal?" kata Isti saat ditemui, Rabu (20/5/2026).
Ia menuturkan, harga kedelai terus mengalami kenaikan dalam beberapa minggu ini.
Semula, harga kedelai Rp10 ribu per kilogram, kini menjadi Rp10.600 per kilogram.
"Yang terasa banget kenaikannya mulai beberapa minggu terakhir ini," kata Isti, dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Kemenkeu: Narasi APBN cuma Cukup 3 Bulan dan Rupiah Capai Rp20 Ribu per Dollar AS adalah Hoaks
Istik pun bimbang karena harga produksi naik, tapi ia tak berani menaikkan harga jual karena takut ditinggal pelanggan.
Perajin lainnya, Bakhur Fauzi mengatakan, keuntungannya berjualan tempe kini makin menipis karena harga bahan baku yang terus naik.
"Sekarang penjualan lagi pelan, harga tetap sama, ukuran juga sama enggak diperkecil,"
"Tinggal pinter-pinternya kita jualan aja gimana supaya tetap untung," kata dia.