Harga BBM Naik
Pertamax Naik, Warga Blitar dan DIY Ini Tidak Akan Beralih ke Pertalite, Ini Alasannya
Walau demikian, Nita mengaku tetap akan menggunakan Pertamax dan tidak beralih ke BBM jenis Pertalite
Ringkasan Berita:
- Nita dan Hesti tetap memakai Pertamax meski harganya naik tajam karena kebutuhan sehari hari mereka.
- Kenaikan harga membuat sebagian konsumen beralih ke Pertalite sehingga penjualan Pertamax menurun di sejumlah SPBU.
- Warga Yogyakarta resah menilai dampak kenaikan BBM memperberat ekonomi dan kebutuhan keluarga sehari hari mereka.
TRIBUNNEWS.COM, BLITAR - Nita (25), warga Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, mengaku kaget harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (Ron 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, Rabu (10/6/2026).
Walau demikian, Nita mengaku tetap akan menggunakan Pertamax dan tidak beralih ke BBM jenis Pertalite
"Saya pernah pakai pertalite, tapi sepeda motornya malah kayak nyendat-nyendat. Akhirnya tetap pakai pertamax," ujarnya saat mengisi pertamax di SPBU Jl Kalimantan, Kota Blitar.
Setiap hari, Nita membeli pertamax Rp15.000 untuk mengisi bahan bakar sepeda motornya.
Dengan pembelian itu, hanya cukup untuk perjalan pergi pulang sepeda motor Nita dari Bakung ke Kota Blitar.
"Saya kerja di Kota Blitar. Sekali perjalanan pergi pulang dari Bakung ke Kota Blitar, saya mengisi pertamax Rp 15.000 tiap hari," kayanya.
Warga lainnya, Hesti juga baru tahu harga pertamax naik pagi ini.
Meski harga naik, ia juga tetap membeli pertamax untuk bahan bakar sepeda motornya.
"Saya baru tahu harga pertamax naik pagi ini saat mengisi bahan bakar di SPBU. Saya tetap beli pertamax, karena sudah jadi kebutuhan," katanya.
Banyak Konsumen Beralih ke Pertalite
Pengawas SPBU Jl Kalimantan, Kota Blitar, M Rizki mengatakan, informasi kenaikan harga pertamax diterima SPBU pada Selasa (9/6/2026) tepat pukul 00.00 WIB.
Harga pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
Ia memperkirakan, konsumen pertamax menurun dampak kenaikan harga.
"Banyak yang pindah ke pertalite, karena harga pertamax naik. Biasanya, pagi sudah banyak konsumen pertamax, hari ini masih sepi," katanya.
Dikatakannya, sampai sekarang pasokan pertamax di SPBU masih aman.
Baca juga: 5 Dampak Harga Pertamax Naik: Kenaikan Barang dan Jasa hingga Potensi Ancaman PHK
Sebelum ada kenaikan harga, penjualan pertamax di SPBU Jl Kalimantan mencapai 5 ton per hari.
"Dengan kenaikan harga ini pastinya penjualan menurun," ujarnya.
Untuk mengantisipasi konsumen beralih dari pertamax ke pertalite, ia akan mengajukan tambahan pasokan pertalite ke Pertamina.
Biasanya, pasokan pertalite di SPBU Jl Kalimatan sebanyak 16 ton per hari.
Sedang penjualan pertalite di SPBU Jl Kalimantan rata-rata sekitar 15 ton per hari.
"Antisipasi akan ada penambahan pasokan pertalite sekitar 8 ton. Kalau biasanya pasokan pertalite 16 ton per hari, nanti bisa menjadi 24 ton per hari," katanya.
Terpaksa
Gelombang keresahan mulai melanda masyarakat Kota Yogyakarta menyusul keputusan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax secara signifikan.
Burhanadi, seorang karyawan swasta di Kota Yogyakarta, mengaku hanya bisa pasrah sekaligus resah, mengingat penggunaan BBM nonsubsidi dilatarbelakangi oleh keterpaksaan.
"Saya memang konsisten pakai Pertamax. Alasannya, karena menyesuaikan sama jenis motor yang saya pakai, terus antrean Pertalite kan panjang banget. Mau enggak mau, harus tetap ngisi Pertamax meski harganya bikin geleng-geleng," keluhnya, Rabu (10/6/26).
Bagi Burhanadi, kenaikan harga Pertamax yang begitu signifikan ini menjadi beban tambahan bertubi-tubi yang semakin mendesak perekonomiannya.
Pasalnya, sebelum banderol BBM dikerek naik, ia dan keluarganya sudah lebih dulu megap-megap menghadapi lonjakan harga barang-barang kebutuhan pokok di pasar.
"Ya sebelum Pertamax naik saja harga bahan-bahan pokok sudah melejit. Istriku sudah sambat (mengeluh) dari kemarin-kemarin itu, apa-apa naik, kebutuhan sehari-hari semakin mahal. Belum lagi token listrik rasanya kok lebih cepat habis sekarang," tuturnya.
Nilai tukar rupiah jadi alarm
Burhanadi bilang, melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini diakuinya sudah menjadi alarm awal yang menakutkan bagi masyarakat kelas pekerja.
Efek domino dari kenaikan BBM pun diprediksi bakal membuat harga barang-barang lain semakin tak terjangkau dan disebutnya lebih meresahkan dibandingkan dengan masa-masa sulit pandemi Covid-19 silam.
Baca juga: Harga Pertamax Naik, Sebagian Pemilik Mobil Tetap Beli karena Regulasi dan Kebutuhan
"Terus terang resah banget, lebih meresahkan dibanding zaman Covid-19 dulu. Apalagi pemerintah kesannya kayak menyepelekan ya, seolah enggak peduli sama gejolak di masyarakat bawah," cetusnya.
"Sudah banyak ekonom yang memperingatkan, tolong bisa ditindaklanjuti. Setidaknya bikin harga-harga kebutuhan itu stabil, jangan sampai tidak terjangkau lagi sama masyarakat kecil," tambahnya.
Saat ditanya mengenai peluang untuk migrasi atau beralih menggunakan Pertalite yang harganya lebih murah, Burhanadi menggelengkan kepala.
Ia memprediksi, kenaikan Pertamax justru akan membuat jalur antrean Pertalite di berbagai SPBU, khususnya di sekitaran Yogyakarta, semakin tak terkendali.
"Sepertinya enggak (beralih ke Pertalite). Kalau harga Pertamax segini, pasti antrean di Pertalite bakal semakin menggila. Terus, takutnya Pertalite malah jadi langka juga di lapangan," pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Warga Blitar Kaget Harga Pertamax Mendadak Naik Jadi Rp16.250
dan
Pertamax Melejit, Warga Jogja Menjerit: Lebih Meresahkan Dibanding Zaman Covid-19!
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.