Kamis, 11 Juni 2026

Misteri 123 Titik Api di Sleman, Keluarga Agusyani Satukan Ikhtiar Sains dan Doa

123 titik api misterius di Sleman belum terpecahkan. Keluarga Agusyani memilih memadukan doa bersama dan penelitian ilmiah

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Tribun Jogja/Hendy Kurniawan
KEMUNCULAN SLEMAN - Setelah 19 hari dihantui kemunculan api misterius yang telah mencapai 123 titik, keluarga Agusyani di Seyegan, Sleman, memilih menempuh dua jalur sekaligus untuk mencari jawaban: sains dan doa. 
Ringkasan Berita:
  • Setelah 19 hari dihantui 123 titik api misterius, keluarga Agusyani di Seyegan, Sleman, menempuh dua ikhtiar sekaligus: doa dan sains 
  • Warga akan menggelar doa bersama sembari mendengarkan hasil sementara penelitian tim UGM
  • Sejumlah petunjuk mulai ditemukan, mulai dari gas hidrogen, dugaan gas fosfin, hingga anomali bawah tanah, namun penyebab pasti kemunculan api berulang masih menjadi misteri

 

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN – Setelah 19 hari dihantui kemunculan api misterius yang telah mencapai 123 titik, keluarga Agusyani di Seyegan, Sleman, memilih menempuh dua jalur sekaligus untuk mencari jawaban: sains dan doa.

Di satu sisi, tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sejumlah lembaga terkait terus mengumpulkan data untuk mengungkap penyebab fenomena kebakaran berulang tersebut.

Di sisi lain, keluarga bersama warga dan relawan akan menggelar doa bersama sebagai bentuk ikhtiar batin menghadapi peristiwa yang hingga kini belum terpecahkan.

Doa bersama dijadwalkan berlangsung Kamis (11/6/2026) malam ini di kediaman Agusyani, Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan.

"Kami mengundang tetangga dan relawan yang selama ini membantu berjaga. Semoga segera ditemukan jalan keluar dan penyebab pastinya bisa diketahui," kata Agusyani, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: Api Misterius di Sleman, Kondisi Psikologis Korban hingga Bisnis Usaha Keluarga Terganggu

Menariknya, acara tersebut tidak hanya diisi pembacaan Surat Yasin dan doa bersama, tetapi juga akan menjadi forum penyampaian hasil sementara penelitian yang dilakukan para ahli selama beberapa pekan terakhir.

Keluarga berharap perpaduan pendekatan spiritual dan ilmiah itu dapat memberikan kejelasan terkait penyebab munculnya api misterius yang telah meresahkan lingkungan sekitar.

“Kami memohon doa agar segera ditemukan jalan keluar dan penyebab pastinya bisa diketahui. Semoga para peneliti diberi kesehatan dan kemudahan, dan keluarga kami diberi kekuatan menghadapi ujian ini,” katanya.

Sejauh ini, para peneliti menemukan sejumlah petunjuk awal, mulai dari keberadaan gas hidrogen, dugaan gas fosfin yang mudah terbakar, hingga anomali bawah tanah yang terdeteksi melalui pemindaian georadar dan geolistrik.

Meski berbagai temuan awal mulai mengerucut, penyebab pasti kemunculan api yang telah muncul lebih dari seratus kali itu masih belum dapat dipastikan.

Peneliti Siapkan Alat Khusus

Sementara itu, tim peneliti dari Departemen Teknik Geologi dan Lingkungan (DTGL) Fakultas Teknik UGM berencana melakukan pengukuran ulang untuk memastikan keberadaan gas fosfin (PH3) yang diduga berperan dalam fenomena kebakaran tersebut.

Dosen DTGL UGM, Dr. Sarju Winardi, mengatakan pengujian masih menunggu kedatangan alat khusus yang mampu mendeteksi gas fosfin secara akurat.

“Ada kemungkinan dilakukan pengecekan kembali karena kami berencana mendatangkan alat untuk mengukur gas fosfin. Namun alat tersebut masih belum datang dari vendor,” ujar Sarju.

Menurutnya, keberadaan gas fosfin masih sebatas dugaan dan perlu pembuktian ilmiah lebih lanjut. Berbeda dengan gas hidrogen (H2) yang sebelumnya telah terdeteksi melalui pengukuran langsung di lokasi.

Pada awal Juni lalu, tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menemukan konsentrasi gas hidrogen yang cukup tinggi di area rumah Agusyani.

Baca juga: BPBD Pasang CCTV Sensor Gerak untuk Jadi Saksi Mata Fenomena Kebakaran Misterius di Sleman

Dari hasil kajian sementara, gas tersebut diduga berasal dari proses fermentasi limbah organik hasil pemotongan ayam yang pernah tertimbun di lokasi.

Selain itu, peneliti juga menelusuri kemungkinan terbentuknya gas fosfin yang berasal dari material kaya fosfat, seperti tulang dan sisa bagian keras bulu ayam. Gas ini dikenal sangat mudah terbakar pada suhu ruang, namun sulit dideteksi karena cepat habis bereaksi dengan oksigen di udara.

Anomali Bawah Tanah

Sebelumnya, tim gabungan dari UGM, UPN Veteran Yogyakarta, BPPTKG, dan Gegana Sat Brimob Polda DIY telah melakukan serangkaian penelitian di lokasi.

Pemindaian menggunakan georadar menemukan indikasi retakan bawah tanah yang diduga menjadi jalur migrasi gas. Penelitian terbaru melalui metode geolistrik juga mendeteksi anomali resistivitas di sisi selatan rumah Agusyani.

Koordinator Peneliti Laboratorium Geofisika Eksplorasi UGM, Saptono Budi Samudro, menjelaskan anomali tersebut mengindikasikan adanya material berbeda di bawah permukaan tanah.

“Sementara yang terlihat ada anomali di sisi selatan rumah. Nilai resistivitas yang berbeda menunjukkan kemungkinan adanya material yang berbeda pula di bawah permukaan,” kata Saptono.

Meski demikian, para peneliti belum dapat menyimpulkan secara pasti jenis material maupun kaitannya dengan fenomena kebakaran yang terjadi.

Intensitas Api Mulai Menurun

Selain penelitian, tim ahli juga menerapkan metode penjenuhan basa dengan menyuntikkan larutan air kapur ke dalam tanah di sekitar rumah korban.

Metode ini bertujuan menekan aktivitas bakteri yang diduga menghasilkan gas pemicu kebakaran sekaligus membantu melepaskan gas yang masih terperangkap di bawah permukaan.

Sarju menyebut tren kemunculan api mulai menunjukkan penurunan setelah metode tersebut diterapkan.

Jika sebelumnya kebakaran bisa terjadi hingga delapan kali dalam sehari, kini frekuensinya berkisar tiga hingga lima kali per hari.

“Ya mudah-mudahan itu respons dari usaha kami. Semoga trennya semakin berkurang,” ujarnya.

Meski sejumlah petunjuk mulai ditemukan, penyebab pasti munculnya ratusan titik api di rumah Agusyani masih belum terungkap. Peneliti terus mengumpulkan data untuk memastikan sumber fenomena yang hingga kini masih menjadi misteri tersebut.  (Tribun Jogja/Singgih Wahyu N)

 

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Fenomena Api di Seyegan Masih Terjadi, Pemilik Rumah Ingin Ikhtiar Batin


 

 

 

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved