Harga BBM Naik
Usai Harga Pertamax Melonjak, Warga Berburu Pertalite hingga Malam Hari, Stok Cepat Habis
Pertalite cepat habis di SPBU berbagai daerah, warga antre panjang hingga malam atau terpaksa beli Pertamax lebih mahal.
Sementara itu, pengendara bernama A Odon mengaku tetap memilih Pertalite karena lebih terjangkau.
"30 pakai Pertalite bisa penuh. Kalau Pertamax ya satu liter lebih," kata Odon.
Baca juga: Gelombang Demo Kenaikan BBM Belum Usai, Aksi Unjuk Rasa di Yogyakarta Berlangsung Sore Ini
Warga Muba Rela Antre hingga Malam
Di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, kelangkaan Pertalite juga memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.
Warga bahkan rela mengantre hingga malam hari demi mendapatkan BBM subsidi.
"Kalau siang antreannya panjang sekali, waktu kita habis untuk mengantre minyak dan tidak bisa bekerja. Makanya kami siasati menunggu malam hari saja, meskipun kenyataannya tetap harus mengantre lama untuk bisa dapat," keluh Heri Yanto, warga Sekayu.
Kelangkaan Pertalite juga berdampak pada sektor transportasi. Sejumlah pengusaha travel mengaku terpaksa menggunakan Pertamax agar jadwal keberangkatan tetap berjalan.
"Kalau kami memaksakan antre Pertalite di siang hari, jadwal keberangkatan bisa berantakan dan penumpang telantar. Jadi, mau tidak mau kami terpaksa memakai Pertamax meskipun harganya sudah naik tinggi di angka Rp16.650 per liter. Biaya operasional kami membengkak," ungkap Kuyung Wadi, pengelola travel di Muba.
Tedy Boy, pelaku usaha travel rute Palembang–Sekayu, menyebut kenaikan tarif sulit dihindari apabila kondisi ini terus berlangsung.
"Namun, kalau kondisi di SPBU kosong total dan kami dipaksa keadaan beralih ke Pertamax, otomatis tarif terpaksa kami naikkan secara sepihak demi menutup modal operasional di jalan," cetusnya.
Keluhan juga datang dari penumpang travel.
"Bagi kami yang sering bolak-balik Palembang–Sekayu untuk urusan pekerjaan maupun keluarga, kenaikan tarif dari Rp100 ribu menjadi Rp150 ribu itu tentu sangat memberatkan kantong. Kami berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan stok Pertalite di SPBU daerah," harap Ruzi Mat Firdaus.
Penjelasan Pertamina
PT Pertamina Patra Niaga sebelumnya telah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan penyesuaian dilakukan sesuai mekanisme evaluasi dan regulasi yang berlaku.
"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," ujar Roberth.
Ia memastikan stok Pertamax dan Pertamax Green tetap tersedia di seluruh SPBU Pertamina.