Gremlin, Proyek yang Disiapkan AS untuk Pertempuran Udara Masa Depan
Proyek Gremlin akan menggagas satu kumpulan UAS (Unmanned Aircraft Systems) yang dapat dioperasikan jarak jauh.
Mereka juga bertugas mengintegrasikan teknologi yang sudah dibuat di Fase I ke dalam UAS. General Atomics berpengalaman membuat UAV seperti MQ-9 Reaper, sementara di belakang Dynetics ada Sierra Nevada Corporation, Applied Systems Engineering, Moog, dan Systima.
UAS yang dibuat akan mampu membawa beragam muatan, mulai dari sensor elektro-optik, radar, dan bahkan senjata seperti SDB (Small Diameter Bomb).
Tak menutup kemungkinan bahwa UAS yang dikembangkan bisa dijadikan platform rudal jelajah pintar yang dikendalikan oleh manusia (man in the loop) untuk memastikan sasaran sebelum perkenaan.
Apabila fase kedua ini berhasil, maka fase ketiga akan dilanjutkan dengan pengembangan teknologi penuh dan uji terbang Gremlin.
Fase ini juga mencakup peluncuran dan juga pendaratan UAS-UAS tersebut ke platform pembawanya. Untuk tahap ujicoba, UAS akan dibawa dengan pesawat C-130 yang dimodifikasi.
UAS-UAS tersebut diharapkan hanya memiliki waktu turnaround yang rendah, cukup 24 jam masa persiapan dan perawatan sebelum diterbangkan kembali untuk misi berikutnya.
Apabila lancar, maka diharapkan fase ketiga sudah dapat mulai dijalankan pada tahun 2019.
Faktor lain yang diharapkan akan membawa proyek Gremlin ke tahap operasional adalah biayanya yang rendah.
UAS untuk proyek ini didesain untuk bisa dipakai selama 20 kali pakai, sebelum diganti dengan UAS yang lebih baru.
Material pembuatan untuk UAS-UAS ini akan memanfaatkan material komposit yang ringan sehingga biaya pembuatannya pun juga akan murah.
Sejauh ini mock up UAS yang dipamerkan oleh General Atomics menggunakan sistem propulsi jet mini, dengan desain silindris mirip dengan rudal jelajah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/drone_20150205_231207.jpg)