Fenomena Astronomis Desember 2021 Pekan Kedua: Puncak Hujan Meteor Monocerotid hingga Geminid

Berikut beberapa fenomena astronomis bulan Desember 2021 yang dirilis oleh LAPAN pada pekan kedua, ada Puncak Hujan Meteor Monocerotid hingga Geminid.

Instagram LAPAN
Berikut beberapa fenomena astronomis bulan Desember 2021 yang dirilis oleh LAPAN pada pekan kedua, ada Puncak Hujan Meteor Monocerotid hingga Geminid. 

TRIBUNNEWS.COM - Berikut ini beberapa fenomena astronomis bulan Desember 2021 yang dirilis oleh LAPAN pada pekan kedua.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah merilis kalender astronomi bulan Desember 2021.

Kalender ini menginformasikan fenomena astronomis yang akan terjadi pada bulan Desember 2021 pekan kedua, yakni tanggal 9-15 Desember 2021.

Baca juga: Kaleidoskop 2021 - Fenomena Astronomi: Gerhana Bulan Total, Hujan Meteor Orionid, Nadir Kabah

Baca juga: Fenomena Astronomis Bulan Desember 2021 Pekan Kedua: Terjadinya Fase Bulan Perbani Awal

LAPAN juga menginformasikan fenomena astronomis ini melalui akun Instagramnya, @lapan_ri.

Berikut ini Fenomena Astronomis Desember 2021 pekan kedua yang dikutip dari Edukasi Sains Antariksa LAPAN.

1. Puncak Hujan Meteor Monocerotid: 9-10 Desember 2021

Puncak Hujan Meteor Monocerotidd
Puncak Hujan Meteor Monocerotid (Edukasi Sains Antariksa LAPAN)

Monocerotid adalah hujan meteor minor yang titik radiannya (titik asal kemunculan meteor) berada di dekat konstelasi Monoceros yang berbatasan dengan konstelasi Orion dan Gemini.

Hujan meteor ini bersumber dari sisa debu asteroid 2004 TG10 yang mengorbit Matahari dengan periode 3,34 tahun dan juga menjadi sumber bagi hujan meteor Taurid Utara.

Hujan meteor ini dapat disaksikan sejak pukul 19.40 waktu setempat hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum terbenam Matahari) dari arah Timur hingga Barat.

Intensitas hujan meteor ini untuk Indonesia mencapai 1,9-2 meteor/jam (Sabang hingga P. Rote).

Hal ini karena titik radian berkulminasi pada ketinggian 71°-88° pada arah utara, sementara intensitas hujan meteor saat di zenit sebesar 2 meteor/jam.

Pastikan cuaca cerah dan bebas dari penghalang maupun polusi cahaya di sekitar medan pandang.

Hal ini dikarenakan intensitas hujan meteor ini berbanding lurus dengan 100% minus persentase tutupan awan dan berbanding terbalik dengan skala Bortle (skala yang menunjukkan tingkat polusi cahaya, semakin besar skalanya maka semakin besar polusi cahaya yang timbul).

2. Puncak Hujan Meteor Chi-Orionid: 10-11 Desember 2021

Puncak Hujan Meteor Chi-Orionidd
Puncak Hujan Meteor Chi-Orionid (Edukasi Sains Antariksa LAPAN)
Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved