Breaking News:

Penderita Rabun Jauh Meningkat di Masa Pandemi

Selama pandemi masyarakat kebanyakan beraktivitas di rumah dengan gadget mereka. Tak terkecuali anak usia sekolah.

SCMP
FOTO ILUSTRASI - Anak Perempuan yang masih Berusia 2 Tahun Mengalami Rabun Jauh hingga Matanya Minus 9 karena Bermain Smartphone setiap Hari dalam 1 Tahun Terakhir. 

Apalagi jika sudah ditandai seperti mata buram saat melihat benda jauh, mata cepat lelah hingga sering mengusap-usap mata.

Kasus rabun jauh juga tidak bisa dianggap sepele terutama pada anak-anak.

Selama Pandemi, anak-anak lebih rentan terkena rabun jauh diakibatkan pembelajaran selama pandemi selalu menggunakan gawai.

Bila sudah terkena minus pada rabun jauh, sudah seharusnya melakukan penanganan. 

Sebelum melakukan penanganan, dr Gusti G Suardana mengatakan harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Tujuannya adalah agar dapat mengidentifikasi apa penyebab rabun dan tindakan apa yang musti dilakukan.

Ada berbagai cara yang dapat dilakukan. Misalnya menggunakan terapi Atropin dengan dosis 0,1 persen.

Penggunaan terapi ini dapat menghambat terjadinya pertambahan minus pada mata anak-anak.

Kedua adalah Orthokeratology atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ortho-K.

Cara terapi ini berbeda dari biasanya dan cocok apa bila dilakukan pada anak-anak yang belum siap melakukan operasi. 

Halaman
123
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved