Fenomena 'Pacaran' dengan AI, Psikolog Ungkap Bahayanya
Fenomena 'pacaran' dengan AI muncul karena kebutuhan dasar manusia untuk dipahami. Apalagi teknologi tersebut mulai menyentuh sisi emosional manusia.
Sistem ini dirancang untuk mendengarkan tanpa menghakimi, menjawab dengan empati buatan, dan selalu tersedia kapan pun pengguna membutuhkannya.
Namun, menurut Irma, perasaan “dimengerti” yang muncul sebenarnya hanyalah ilusi.
“Ketika kita manusia itu sebenarnya ingin dimengerti, ketika kita misalnya cerita dengan si chatbot, dia akan meng-feedback dengan kayaknya itu dirangkul, padahal rangkulan itu tidak nyata sebenarnya, karena itu sebenarnya mesin,” jelasnya.
Bagi sebagian orang, hal ini bisa memunculkan ambisi untuk terus mencari bentuk kasih sayang artifisial, bukan hubungan manusiawi yang sesungguhnya.
Ketergantungan semacam ini bisa membuat seseorang semakin menjauh dari dunia sosial, dan kehilangan kemampuan untuk menghadapi konflik atau ketidaksempurnaan dalam hubungan nyata.
Perselingkuhan Emosional yang Tak Disadari
Irma juga menyoroti sisi lain dari fenomena ini, yaitu bentuk “perselingkuhan emosional” yang terjadi bukan dengan manusia, melainkan dengan sistem buatan.
“Maka kenapa selingkuh zaman sekarang itu sebenarnya banyak sekali bukan objeknya orang yang nyata. Jadi, perselingkuhan bisa terjadi di AI yang salah satunya,” ujarnya.
Dalam banyak kasus, seseorang yang terikat secara emosional dengan AI akan mulai menarik diri dari pasangannya di dunia nyata.
Mereka lebih memilih berbagi cerita, keluh kesah, bahkan keintiman emosional dengan chatbot karena merasa lebih diterima.
Padahal, secara psikologis, keterikatan semacam ini dapat menimbulkan kesenjangan emosional dalam hubungan, menurunkan empati sosial, dan memperkuat kebiasaan melarikan diri dari masalah nyata.
Lebih lanjut Irma mengingatkan bahwa manusia hidup untuk berinteraksi dengan sesama manusia.
Dunia digital seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti.
Karena itu, menjaga kewarasan di tengah kemajuan teknologi menjadi hal yang semakin penting.
“Makanya kenapa yang harus waras sih, yang dijaga supaya jangan sampai kita involve terlalu jauh. Karena realitanya kan kita hidup harusnya tanpa muka, gitu ya. Bercerita dengan yang real, sebetulnya,” ujarnya.
Menurut Irma, salah satu cara menjaga keseimbangan adalah dengan tetap terhubung secara sosial di dunia nyata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-AI-KECERDASAN-BUATAN-ARTIFICIAL-INTELLIGENCE-123da.jpg)