Jumat, 17 April 2026

Fenomena 'Pacaran' dengan AI, Psikolog Ungkap Bahayanya

Fenomena 'pacaran' dengan AI muncul karena kebutuhan dasar manusia untuk dipahami. Apalagi teknologi tersebut mulai menyentuh sisi emosional manusia.

|
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Willem Jonata
Freepik.com/rawpixel.com
ILUSTRASI AI - Ilustrasi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang diunduh dari laman freepik.com, Rabu (4/6/2025). Berikut top 10 perusahaan AI yang memimpin pasar dunia. 

Ringkasan Berita:
  • AI mulai menyentuh sisi emosional manusia, bahkan menggantikan kehadiran pasangan
  • Banyak yang merasa lebih nyaman bercerita kepada chatbot atau aplikasi yang dirancang menyerupai pasangan
  • Tren ini menyimpan potensi bahaya psikologis

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Di era digital, batas antara dunia nyata dan dunia maya kian kabur. 

Teknologi kecerdasan buatan (AI) kini bukan hanya hadir dalam bentuk alat bantu kerja. Tapi juga mulai menyentuh sisi emosional manusia, bahkan menggantikan kehadiran pasangan.

Fenomena “pacar AI” atau hubungan emosional dengan sistem buatan kini menjadi topik yang ramai di kalangan anak muda. 

Banyak yang merasa lebih nyaman bercerita kepada chatbot atau aplikasi yang dirancang menyerupai pasangan manusia dibanding berinteraksi dengan orang sungguhan.

Namun di balik semua itu, psikolog Irma Gustiana mengingatkan bahwa tren ini menyimpan potensi bahaya psikologis jika tidak disikapi dengan kesadaran dan batas yang sehat.

Ketika Hubungan Nyata Digantikan oleh “Pacar Digital”

Menurut Irma, fenomena ini muncul karena kebutuhan dasar manusia untuk dipahami. 

Dalam dunia yang penuh tekanan sosial, banyak orang merasa lebih aman dan diterima ketika berinteraksi dengan sistem yang tak menghakimi.

“Kenapa kok orang lebih banyak ngadu kepada AI? Atau pacar-pacar (AI) yang memang melalui media sosial, atau memang ada beberapa aplikasi,” jelasnya pada awak media di bilangan Jakarta Selatan, Jumat (24/10/2025). 

Baca juga: Pernah Dihantui Perasaan Bersalah Saat Libur? Psikolog Beri Penjelasan

Irma menceritakan pengalamannya saat mengikuti sebuah workshop tentang relasi dan menemukan banyak remaja yang memiliki aplikasi pasangan virtual. 

Beberapa bahkan menciptakan sosok idealnya sendiri, lengkap dengan nama, karakter, dan cerita romantis yang dibuat melalui sistem AI.

“Kalau klien-klienku sendiri, itu sampai memang nge-print beberapa foto-foto tertentu dari AI segala macam. Itu menjadi bantalan, jadi karena biasa rasa buruk,” ungkap Irma.

Fenomena ini menggambarkan bagaimana generasi muda mulai mengalihkan kebutuhan emosionalnya kepada bentuk hubungan yang tidak nyata.

Dalam jangka panjang, hal ini bisa menimbulkan isolasi sosial dan kesulitan membangun relasi sehat di dunia nyata.

Rasa Dimengerti, Tapi oleh Mesin

Hubungan dengan AI sering kali terasa menyenangkan di awal. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved