Fenomena 'Pacaran' dengan AI, Psikolog Ungkap Bahayanya
Fenomena 'pacaran' dengan AI muncul karena kebutuhan dasar manusia untuk dipahami. Apalagi teknologi tersebut mulai menyentuh sisi emosional manusia.
Bertemu teman, keluarga, atau mengikuti kegiatan komunitas dapat membantu seseorang tetap membumi dan tidak larut dalam realitas virtual.
Selain itu, membatasi waktu penggunaan aplikasi berbasis AI dan menyadari tujuan penggunaannya juga penting.
Bila digunakan untuk hiburan atau eksplorasi kreatif, AI bisa bermanfaat. Namun bila mulai menjadi pelarian emosional, saatnya seseorang mengevaluasi kembali batasnya.
Refleksi: Manusia Butuh Kehangatan Nyata
Kebutuhan untuk dipahami, didengarkan, dan dicintai adalah sifat alami manusia.
Namun, rasa itu hanya dapat tumbuh sehat melalui hubungan yang saling memberi dan menerima antara dua manusia yang nyata.
AI mungkin bisa meniru empati, tetapi tidak bisa menggantikan makna interaksi sejati: tatapan mata, sentuhan, atau emosi yang hidup dalam diri manusia.
Irma menegaskan bahwa isolasi akibat keterikatan digital bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan mental.
“Kalau ada yang sekarang semakin mengisolasi, dari posisi yang negatif, sebenarnya itu bahaya semua,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-AI-KECERDASAN-BUATAN-ARTIFICIAL-INTELLIGENCE-123da.jpg)