Disebut Penyakit Seribu Wajah, Lupus Bisa Menyerang Kulit hingga Otak
Pendekatan komprehensif dan evaluasi medis yang tepat menjadi kunci untuk menekan risiko kerusakan organ dan meningkatkan kualitas hidup pasien lupus.
Saat virus, bakteri, atau jamur masuk ke tubuh, sistem imun alamiah akan bereaksi lebih dulu untuk menetralisir ancaman.
Setelah itu, sistem imun adaptif membentuk antibodi agar tubuh memiliki memori terhadap patogen yang sama di kemudian hari.
Namun pada lupus, mekanisme ini mengalami gangguan.
Sistem imun salah mengenali jaringan tubuh, seperti sel sendi, ginjal, otak, atau kulit sebagai ancaman yang harus diserang.
Proses ini memicu peradangan yang dapat berlangsung lama dan berulang.
“Pada lupus, itu disebut autoimun. Karena dia hanya menyerang dirinya sendiri,” jelas dr. Santi.
Peradangan Kronis dan Risiko Kerusakan Organ
Peradangan yang terus berlangsung dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan penurunan fungsi organ.
Jika menyerang ginjal, pasien dapat mengalami gangguan fungsi ginjal.
Bila mengenai otak, dapat muncul kejang. Sementara jika menyerang darah, dapat terjadi penurunan trombosit atau kelainan sel darah lainnya.
Menariknya, tidak ada pola pasti organ mana yang akan terdampak pada setiap penderita.
Satu pasien bisa mengalami dominasi keluhan kulit, sementara pasien lain langsung mengalami gangguan ginjal tanpa gejala awal yang mencolok di kulit atau sendi.
Variasi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari genetik hingga lingkungan.
Namun hingga kini, belum ada alat atau metode yang dapat memprediksi secara pasti organ mana yang akan terkena pada setiap individu dengan lupus.
Perempuan Usia Muda Menjadi Kunci Kewaspadaan
Dari sisi karakteristik pasien, lupus paling sering ditemukan pada perempuan usia muda.
Pola kekambuhan gejala yang berulang, terutama pada wanita usia produktif, menjadi kunci penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan SLE.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-Hari-Lupus-Sedunia.jpg)