Lupus Bisa Picu Trombosit Turun hingga Sering Disangka DBD atau Malaria, Ini Bedanya
Lupus bukan hanya menyerang satu organ, melainkan dapat melibatkan hampir seluruh sistem tubuh, termasuk darah.
Ringkasan Berita:
- Lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE), penyakit autoimun kronis sering luput dikenali sejak awal
- Penderita lupus dapat mengalami berbagai kelainan darah, mulai dari anemia, leukopenia, hingga trombositopenia atau penurunan trombosit. Kondisi inilah yang membuat lupus disangka DBD dan malaria
- Yang membedakan, terletak pada mekanisme penyebab
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Penurunan trombosit kerap identik dengan demam berdarah dengue (DBD) atau malaria.
Namun dalam praktik klinis, kondisi serupa juga dapat terjadi pada lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE), penyakit autoimun kronis yang sering luput dikenali sejak awal.
Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Alergi Imunologi dr. Santi Sumihar R. Parhusip, Sp.PD, Subsp. AI, FINASIM menjelaskan bahwa lupus bukan hanya menyerang satu organ, melainkan dapat melibatkan hampir seluruh sistem tubuh, termasuk darah.
Baca juga: Lestari Moerdijat Tekankan Pentingnya Pemahaman Keluarga dalam Cegah DBD
“Jadi, kalau SLS, Sistemik Lupus Erythematosus itu adalah suatu penyakit autoimunokronis yang bisa mengenai seluruh organ tubuh, termasuk darah,” ujar dr. Santi dalam acara Exclusive Talk “Internal Medicine Update and Education” bersama RS Premier Bintaro dan Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Banten Tangerang, Minggu (14/12/2025).
Ketika Lupus Menyerang Darah
Dalam kondisi normal, darah terdiri dari plasma dan berbagai sel darah yang memiliki fungsi vital.
Pada lupus, sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru menyerang jaringan sendiri, termasuk sel-sel darah.
Akibatnya, pasien lupus dapat mengalami berbagai kelainan darah, mulai dari anemia, leukopenia, hingga trombositopenia atau penurunan trombosit.
Kondisi inilah yang sering membuat lupus keliru disangka sebagai Demam Berdarah Dangue (DBD) atau malaria, karena kedua penyakit infeksi tersebut juga memicu trombosit turun disertai demam.
Perbedaannya terletak pada mekanisme penyebabnya.
Pada DBD, trombosit turun akibat infeksi virus dengue, sedangkan malaria disebabkan parasit.
Sementara pada lupus, penurunan trombosit terjadi karena proses autoimun yang berlangsung kronis.
Pola Demam Jadi Kunci Pembeda
Selain trombosit, karakter demam menjadi petunjuk penting dalam membedakan lupus dengan penyakit infeksi.
Pada DBD, demam biasanya tinggi dan muncul mendadak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/HARI-LUPUS-SEDUNIA-2025-rteteter.jpg)